Mohon tunggu...
Abiwodo SE MM
Abiwodo SE MM Mohon Tunggu... Bankir - Professional Bankers, Student at UI

Bankers yang selalu fokus terhadap "goal-oriented with an eye for detail, a passion for designing and improving creative processes and expertise in corporate relations" Saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di UI.

Selanjutnya

Tutup

Metaverse Pilihan

Ketika Digitalisasi Perbankan dan Metaverse Bertemu

14 Oktober 2022   07:00 Diperbarui: 14 Oktober 2022   07:05 264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Adobe Stock

Jangan pernah melawan perkembangan zaman dan teknologinya, gaes! Ya, seperti usaha perbankan dan bank sentral untuk 'membunuh' mata uang kripto atau crypto currencies, sejak awal saya sudah berpikir itu akan sia-sia.

Terlebih ketika metaverse tak lagi sekadar konsep, dan teknologi blockchain menjadi basis sistem interaksi dan transaksi yang kian relevan dan digandrungi. Di sinilah kemampuan bergaul dari digitalisasi perbankan diuji!

Sebelum cerita soal hubungan digitalisasi perbankan dengan metaverse ini, saya coba menjelaskan tipis-tipis soal si metaverse, blockchain, Non-Fungible Token (NFT), dan Decentralized Finance (DeFI) dalam pemahaman saya.

Secara sederhana, metaverse itu adalah kehidupan nyata dalam ruang dan waktu virtual. Semua serba virtual: virtual human atau disebut avatar atau perwakilan diri secara virtual, aset virtual, transaksi virtual, uang virtual, dan lain-lain. Pokoknya semua yang ada di dunia nyata ini punya avatar atau perwakilan virtualnya di metaverse. Setiap avatar atau perwakilan virtual itu memiliki sertifikat hak milik yang diakui dunia, yang disebut NFT. Karya digital NFT ini tentu bisa diperjual-belikan.

Semua kehidupan virtual ini berjalan diatas sistem blockchain, sebuah teknologi yang diperlukan untuk transaksi menggunakan kripto -- yang menjadi mata uang di metaverse. Blockchain ini semacam buku keuangan bersama, yang setiap transaksinya bisa terlacak dan dilihat publik. Cara kerjanya mirip Google Docs, semua orang bisa akses secara bersamaan.

Jadi, wajar saja jika perkembangan Web 3.0 semakin masif. Perbedaannya dengan Web 2.0 dan Web 1.0 ada pada tingkat interaksi antara internet dan penggunanya. Web 3.0 atau biasa disebut web3 mendukung ekosistem online yang terdesentralisasi berbasis blockchain tadi. Ihwal Web3 ini referensinya sudah banyak ya, saya tidak akan menjelaskannya secara detail di sini.

Yang pasti, blockchain dan mata uang kripto atau cryptocurrency ini bak induk Decentralized Finance (DeFI) alias desentralisasi sistem keuangan. Sebuah sistem yang selama ini menjadi alasan utama adanya sistem perbankan.

Dari sinilah beberapa pertanyaan kerap muncul ketika kongkow dengan sejumlah kawan. Apakah banking masih diperlukan di metaverse? Kalaupun masih, bagaimana relevansi dan eksistensi perbankan di metaverse?

Ini perkara pergaulan. Agar bisnis perbankan tidak tergerus, digitalisasi perbankan harus adaptif dengan pasar metaverse dan membuat bank tetap relevan dalam arus disrupsi ini. Bagaimana caranya?

Perbankan dan NFT

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Metaverse Selengkapnya
Lihat Metaverse Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone