Mohon tunggu...
Andri Pratama Saputra
Andri Pratama Saputra Mohon Tunggu... Bankir - Seorang yang ingin selalu belajar dan saling berbagi pengetahuan

Seorang yang ingin selalu belajar dan saling berbagi pengetahuan #RI #BudayaReview

Selanjutnya

Tutup

Financial

Deviden pada Sumber Dana Syariah

24 Januari 2023   05:59 Diperbarui: 24 Januari 2023   06:20 80
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber; https://www.jojonomic.com/

Keuangan syariah merupakan tata kelola keuangan yang berdasarkan prinsip syariah yang telah jelas apa yang dapat dilakukan dana pa yang dilarag. Keuangan syariah dapat menjadi pendorong keuangan nasional jika dijalankan dengan baik dan sesuai termasuk dalam sistem kontrak. Sobana (2018) menjelaskan dalam pelaksanaan keuangan syariah, terdapat istilah deviden yang adalah keputusan laba yang didapatkan perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai deviden atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk pembiayaan investasi mendatang. Kebijakan deviden berdasarkan penentuan pembagian pendapatan untuk dibayarkan kepada pemegang saham sebagai deviden. Semakin besar deviden semakin baik perusahaan tersebut dan dianggap menguntungkan dan biasanya dicerminkan dari peningkatan harga saham perusahaan. Jika perusahaan meningkatkan pembayaran deviden maka kinerja bisa dikatakan semakin baik.

Dalam perspektif syariah, deviden dikatakan sebagai syirkah musahammah yang merupakan penyertaan modal usaha yang dihitung melalui lembar saham yang didagangkan di pasar modal. Pertanggungjawaban sesuai dengan jumlah saham, keuntungan, dan kerugian yang diterima oleh pemegang saham. Kriteria syirkah musahammah yakni:

  • Jika harta yang disyirkahkan berupa modal secara tunai, perpindahan dilakukan dengan akad sharf (pertukaran uang);
  • Jika karta yang disyirkahkan berupa utang, utang tidak bisa dipindahtangankan dengan menjual piutang;
  • Jika modal yang disyirkahkan berupa barang dagangan atau manfaat, tidak ada halangan untuk memindahtangankan dengan dijual dan laba bisa diterima secara tunai;
  • Jika berupa manfaat, dagangan, uang, dan utang yang disatukan, yang dijadikan pasar hukum adalah hukum barang dengan bisa dipindahtangankan dengan dijual dan keuntungan secara tunai.

Orang atau badan hukum membentuk persekutuan perdata yang memiliki 3 unsur:

  • Persetujuan timbal balik;
  • Adanya penyertaan yang masing-masing harus menyertakan uang,. Barang, dan lainnya;
  • Tujuannya membagi keuntungan di antara pihak.

Beberapa bentuk kebijakan deviden yakni:

a) Kebijakan pemberia deviden stabil

Artinya deviden diberikan tetap per lembar untuk jangka waktu tertentu meskipun laba yang didapatkan perusahaan fluktuasi. Deviden stabil dipertahankan untuk beberpaa tahun. Jika laba meningkat, deviden juga akan meningkat. Kebijakan pemberian deviden stabil diberikan dengan beberapa faktor yakni:

  • Meningkatkan harga saham karena deviden yang stabil dan bisa diprediksi;
  • Memberikan kesan kepada investor bahwa perusahaan memiliki prospek cerah;
  • Menarik investor memanfaatkan deviden untu keperluan konsumsi.

b) Kebijakan deviden meningkat, perusahaan akan membayarkan deviden seiring peningkatan laba.

c) Kebijakan deviden rasio konstan, semakin besar laba maka akan semakin besar deviden yang dibayar. Dasarnya biasa disebut divdent payout ratio (DPR).

d) Kebijakan pemberian regular+ekstra

Perusahaan menentukan jumlah deviden yang dibagikan kecil lalu ditambahkan dengan sktra dividen jika laba mencapai jumlah tertentu.

Terdapat faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden yakni:

  • Keperluan dana bagi perusahaan. Semakin besar keperluan dana, semakin kecil deviden dibagikan. Biasanya laba dijadikan sebagai laba ditahan;
  • Likuiditas perusahaan. Semakin besar jumlah kas yang tersedia maka semakin besar deviden yang dibagi;
  • Kemampuan untuk meminjam. Ketika perusahaan berkemampuan tinggi dalam membayar pinjaman, fleksibilitas deviden tinggi akan semakin besar;
  • Pembatasan perjanjian utang. Pembatasan untuk menjaga kemampuan perusahaan membayar utang;
  • Pengendalian perusahaan. Jika deviden semakin besar, maka perusahaan meningkatkan modal pada waktu datang melalui penjualan saham untuk membiayai kesemoatan berinvestasi;
  • Tingkat ekspansi, semakin perusahaan berkembang maka semakin besar kebutuhan berekspansi dan menahan labanya;
  • Stabilitas laba, semakin stabil laba maka deviden yang dibagikan akan stabil;
  • Kesempatan investasi. Semakin besar kesempatan investasi, semakin kecil deviden;
  • Akses ke padar keuangan. Semakin besar akses ke pasar keuangan maka semakin tinggi deviden;
  • Stabilitas pendapatan. Semakin stabil pendapatan, semakin tinggi deviden;
  • Profitabilitas dan likuiditas. Aliran kas yang baik akan meningkatkan deviden. Jika aliran kas tidak baik, perusahaan sering menjadi target akuisisi, untuk menghindari akuisisi perusahaan bisa membayarkan deviden dan menyenangkan pemegang saham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone