Mohon tunggu...
Andri Pratama Saputra
Andri Pratama Saputra Mohon Tunggu... Bankir - Seorang yang ingin selalu belajar dan saling berbagi pengetahuan

Seorang yang ingin selalu belajar dan saling berbagi pengetahuan #RI #BudayaReview

Selanjutnya

Tutup

Financial

Inklusi Keuangan pada Perempuan

25 Januari 2023   05:00 Diperbarui: 25 Januari 2023   04:59 117
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/

Inklusi keuangan adalah faktor untuk meningkatkan pemerataan pendapatan. Inklusi keuangan ini berarti individu dan pelaku usaha berkemampuan dalam mengakses transaksi keuangan seperti tabungan, kredit, asuransi. Ika, dll (2014) menjelaskan seluruh masyarakat berhak mendapatkan inklusi keuangan termasuk perempuan. Menurut data BPS tahun 2020 jumlah perempuan di masa usia kerja adalah sebesar 99.815.383 (74,24%). Dari total perempuan di Indonesia terdapat 13.394.668 (9,96%) masyarakat tergolong miskin atau yang memiiki rerata pengeluaran per kapita dibawah kemiskinan. Selanjutnya, dalam hal memiliki tabungan, wanita yang tidak memiliki tabungan sebesar 9,489.640 jiwa (70.85%) sehingga mayoritas tidak memiliki tabungan. Terdappat beberapa alasan atas fenomena tersebut yakni mayoritas perempuan dengan literasi keuangan rendah dan rekening tabungan digantungkan kepada lelaki dan perempuan merasa tidak terlalu penting.

Pada Maret 2020, terdapat kenaikan perempuan miskin yang memiliki rekening tabunagn sebesar 21,64% dan rerata rekening tabungan berada di lembaga keuangan formal seperti bank perkreditan, bank umum, atau koperasi. Kenaikan ini adalah hal positif karena dengan memiliki rekening tabungan, perempuan akan membuka https://www.kompasiana.com//andri13094/63cff2614addee25b55a6f73/inklusi-keuangan-pada-perempuan terhadap pemerintah seperti mengikuti program pemerintah. Perempuan yang memiliki rekening tabungan akan memiliki akses sumber daya keuangan yang lebih baik dan meningkatkan kesejahteraannya melalui peluang usaha dan bertransaksi melalui rekening tabungan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Perempuan yang memiliki rekening tabungan akan didorong untuk mempelajari syarat dalam kepemilikan dan untuk belajar hal-hal tertentu. Hal ini tidak terlepas dari peran mendorong inklusi keuangan melalui kebijakan literasi seperti BI dan OJK.

Pemerintah melalui rapat Koordinasi Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) yang memutuskan untuk meningkatkan akselerasi inklusi keuangan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Akselerasi inklusi dilakukan melalui 2 stratgei seperti mempercepat penyaluran kredit baik mikro hingga besar dan meningkatkan layanan keuangan berbasis digital seperti QRIS dan mobile banking. Program tersebut memungkinkan kepemilikan produk dan layanan keuangan tetap positif di tengah pandemic.

Inklusi keuangan terus meingkat baik dari kepemilikan atau penggunaan rekening. Indeks keuangan terus meningkat dari sisi kepemilkikan dan penggunaan akun. Indeks kepemilikan akun meningkat dari 32,3% pada 2014 menjadi 61,7% pada 2020. DNKI mencatatkan pada 2020 sebanyak 348 kegiatan edukasi keuangan terhadap 85000 peserta terlaksana.

Kegiatan edukasi dan literasi keuangan juga semakin dipercepat, sekitar 94,54% pada 2020 terkait layanan keuangan telah diselesaikan dan telah diresmikan Lembaga Alternatif Penyelesaian Terintegrasi di sektor keuangan. Pembukaan rekening bank meningkat 789025 rekening baru. Kepemilikan akun uang elektronik meningkat hingga 13,8 juta dan 5,1 juta merchant pada 2020. Rasio penyaluran kredit UMKM oleh bank umum mencpai 19,8% dan realisasinya sebesar 103,3% dari target 190 triliun. Selain itu, terdapat program Sertifikat Hak Atas Tanah (SHAT) yang bisa digunakan sebagai kolateral ketika meminjam bank.

Selanjutnya, berdasarkan data Kemkominfo pada 2021, akses internet Palapa Ring tersedia 11.817 titik fasilitas publik serta telah diluncurkan LokasiKU sebagai aplikasi pencarian titik layana keuangan dan mengembangkan peta akses layanan keuangan. Masyarakat menjadi bisa mengetahui lokasi terdekat dari bank dan non bank lalu memanfaatkannya seperti meminjam, menabung, atau kredit.

Peningkatan literasi keuangan memiliki tantangan tersendiri dalam mewujudkan pertumbuhan sektor keuangan inklusif, membangun karakter komunitas keuangan berintegritas. Gerakan seperti "Ayo Menabung, "Laku Pandai", microfinance, dan literasi keuangan pendidikan serta strategi nasional literasi keyangan harus selalu berjalan agar inklusi keuangan terus berkembang serta mengoptimalisasi stabilitas keuangan dan moneter serta meningkatkan tata kelola untuk menciptakan stabilitas keuangan dan pengawasan yang efektif dan menjadi penentu salah satu keberhasilan keuangan inklusif.

Daftar Pustaka

 

Ika, Syahrir., Hendratto, Djoko., dan Lokot Zein Nasution. 2014. Inklusi Keuangan untuk Kemakmuran Bangsa. Jakarta:Gramedia

Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone