Mohon tunggu...
Ario Khairul Habib
Ario Khairul Habib Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Manusia yang sedang belajar, maklumi bila masih ada kesalahan.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Layar Negara Indonesia Perlu Dibuka dengan Tangan Generasi Muda

26 Januari 2023   09:30 Diperbarui: 26 Januari 2023   09:34 131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Peradaban manusia akan terus berkembang bersamaan dengan berjalannya waktu, perkembangan terkini telah menampilkan bahwa dunia telah berada pada era globalisasi. Era ini menjadi suatu proses perkembangan teknologi melaju begitu kencang dari tahun ke tahun. Adanya pekembangan ini, maka suatu wilayah dapat dikatakan telah berada pada kemajuan, terlebih lagi dengan adanya digitalisasi yang kini mulai masuk dan kian melekat pada setiap keseharian aktivitas manusia. 

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam himpunan penduduk. Bukan heran jika Warga Negara Indonesia tidak ikut serta dalam memanfaatkan Digitalisasi, tercatat hingga tahun 2022 berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna digitalisasi pada Negara Indonesia telah mencapai 210 Juta pengguna,  jumlah ini adalah jumlah yang meningkat drastis dari tiga hingga lima tahun yang lalu.

Era digital adalah kehadiran yang dapat menjadi suatu kesempatan, dan juga dapat menjadi suatu tantangan. Mengutip dari pekataan Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugorho (2021) mengatakan bahwa era digital menjadi kesempatan untuk bersatu, dibutuhkan peran pemuda untuk melawan segala dampak dari Era Digital seperti hoaks, permusuhan, serta provokasi yang meyebabkan kesalahpahaman yang berujung terjadinya intoleransi dan terorisme, dari penyataan tersebut menyimpulkan bahwa tugas Rakyat Indonesia terutama pemuda di Ibu Pertiwi memang seharusnya menjaga kedaulatan NKRI. 

Di sisi lain era digital yang kini telah merambah pada berbagai media komunikasi juga menjadi suatu kesempatan bagi sektor lain untuk memudahkan segala hal terutama pada sarana dan prasarana. Baik dari sektor Bisnis, Pendidikan, Pariwisata, dan lain sebagainya.

Begitupula dengan politik, kehadiran era digital yang didampingi dengan adanya media komunikasi, membuat dunia politik memudahkan para tokoh-tokoh politik dari partainya yang memiliki segudang harta untuk berusaha sekuat tenaga agar dapat duduk di kursi yang mereka idamkan. 

Hadirnya era digital  membuat para bakal calon pasangan andalan masing-masing partai terutama pada masa kampanye dimanfaatkan untuk berunjuk gigi dan membangun citra yang sedemikian rupa dan jauh dari kata realitas. Heru Nugroho (2003) menjadi pengantar pada Buku Demokrasi di Era Digital karya Anthony G. Wilhem menyebutkan bahwa “Setiap penemuan alat komunikasi baru yang memberikan efisiensi akan selalu menjadi ancaman serius bagi proses demokrasi.” Pernyataan tersebut menjadi suatu hal yang kini benar-benar terjadi, dan tidak mungkin dapat di hindari.

Tantangan Bersatu

Menilik dari penyataan Septiaji Eko Nugroho mengenai pemuda-pemudi Indonesia yang harus bersatu di era digital untuk memerangi dampaknya seperti penyebaran hoax, fitnah, provokasi, serta hal lain yang berdekatan dengan itu. Nampaknya sulit bagi pemuda-pemudi untuk mewujudkan hal tersebut. Negara Indonesia bersistem pada demokrasi yang bersifat terbuka, sportif, damai, tidak memaksakan pendapat, bertanggung jawab, dan tidak melanggar hak orang lain. Itulah gambaran dari sifat demokarasi yang ada di Negara Indonesia, namun tidak sepenuhnya sifat itu berjalan dengan baik dan benar.

Acara meriah yang selalu ada setiap lima tahun sekali sudah menjadi tradisi Negara Indonesia yaitu “Pesta Demokrasi” dimana pemilu diadakan serentak diseluruh Tanah Air dan berlaku bagi semua warga Negara. Sebelum terjun pada pesta demokrasi ada sebuah proses menjelang terjadinya pemilu, proses ini dinamakan kampanye yang bertujuan untuk mengenalkan setiap calon dari masing-masing partai yang ada di Negara Indonesia. Tak tanggung-tanggung kegiatan mengenalkan di susun sebaik dan semewah mungkin, hingga dapat terlihat bahwa apa yang mereka kenalkan tak seasli dan senyata diri mereka sendiri.

Political Marketing atau pemasaran politik sudah menjadi kegiatan setiap partai untuk berlomba-lomba menunjukan yang terbaik dari calon pasangan yang mereka usung, hal ini semata-mata bertujuan untuk meraih kemenangan dan menjadi yang terbaik. Di era digital, seluruh media terutama media komunikasi dapat di manfaatkan lebih oleh para calon pasangan untuk memodifikasi dan diberi variasi, mereka mau tak mau harus memakai topeng yang penuh senyum di hadapan masyarakat untuk menarik simpati dan empati. 

Alih-alih memakai topeng, mengapa tidak menunjukan keasliannya hingga rakyat menilai dan dari penilaian itu mereka dapat terus berbenah, hingga waktu memantapkan hati mereka untuk siap bersaing. Mungkin itu akan terjadi, jika setiap partai bisa memilih untuk mengutamakan perbaikan Negeri daripada kemenangan tersendiri. Jika hal tersebut dapat dilakukan, maka tak aka nada tantangan untuk bersatu di era digital.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone