Mohon tunggu...
Asep Abdul Aziz
Asep Abdul Aziz Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - Pendidikan Berkelanjutan

Tidaklah seseorang membuat karya tulis pada hari ini melainkan keesokan harinya dia berkata: Jika bagian ini diubah, tentu lebih indah. Jika bagian itu ditambah, tentu lebih jelas. Jika yang ini didahulukan, niscaya lebih menawan. Jika yang itu dihilangkan, niscaya lebih rupawan. (Ali Muhammad Hasan Al-‘Imadi)

Selanjutnya

Tutup

Politik

Fenomena Rekrutmen Peserta Pemilu Tingkat Desa

26 Januari 2023   09:48 Diperbarui: 26 Januari 2023   10:03 156
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Rekrutmen penyelenggara pemilihan umum tingkat desa memasuki babak akhir dan peserta yang dinyatakan lulus telah ditetapkan serta  telah diambil sumpah dan jabatannya sebagai panitia pemilihan umum tingkat desa atau biasa disebut dengan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Dalam rekrutmen tersebut menyisakan seribu peristiwa yang bagi sebagian orang (peserta rekrutmen) penuh dengan kejadian luar biasa.

Kejadian luar biasa itu, bila diruntut satu-satu berdasarkan kronologis waktu rekrutmen diawali dengan, nilai tes tulis menggunakan komputer/CAT (nilai maksimal 150), waktu pengumuman peserta yang lulus tes tulis tidak dicantumkan nilainya (di daerah domisili penulis) hanya berdasarkan abjad saja, nilai yang dipublikasi hanya sesudah tes.

Tetapi  di daerah lain diurutkan dari nilai yang paling tinggi ke paling rendah dan peserta yang lulus dari tes tulis bisa mengikuti wawancara. Kejadian luar biasa lainnya tidak memasukkan nilai CAT dan hanya menggunakan nilai wawancara saja sebagai nilai akhir serta pewawancara tidak memegang pulpen dan tidak membuka kertas/map/catatan lain. Nilai wawancara pun tidak dipublikasi sesudah tes atau di pengumuman yang lain.

Usut punya usut atau kabar yang berhembus, kenapa panitia menggunakan nilai wawancara saja dikarenakan banyak peserta yang telah direkomendasikan pihak-pihak tertentu, untuk menduduki posisi tersebut nilai CAT-nya kurang memuaskan. Ada yang bilang skala nilai dari wawancara itu 1-100, 1-200, dan 1-300. Entahlah, karena tidak jelasnya panitia memberikan informasi tentang pembobotan nilai dari rekrutmen tersebut.

Ada suatu kejadian lain lagi, nilai CAT di desa A nilai diurutkan dari yang paling tinggi 81, 79, 68, 67, 66, 66, 51, 51, 48, 48, dengan 10 0rang peserta. Peringkat pertama pada pengumuman akhir (peserta terpilih) adalah yang nilai 51, sedangkan nilai 81 hanya diperingkat ke-6. Karena nilai yang digunakannya adalah nilai hasil wawancara saja. Padahal, bila melihat materi dari tes tulis dan wawancara tidak ada perbedaan, kedua tes tersebut mencakup tentang wawasan umum/kebangsaan, kepemiluan, dan karakteristik kepribadian. Tetapi di daerah lain, panitia rekrutmen itu sangat jelas dan transparan dalam memberikan informasi tentang pembobotan nilai rekrutmen.

Bagi orang-orang yang pernah mengikuti rekrutmen CPNS (dosen), pemburu beasiswa, dan masuk perguruan tinggi (khusus pascasarjana) nilai tes tulis itu menjadi bahan utama untuk mengukur kemampuan peserta rekrutmen dan dilengkapi dengan nilai hasil wawancara, bisa saja bobot penilaiannya beragama tergantung penyelenggara, bisa 40%+60%, 50%+50% atau ada bobot penilaian yang lain selain yang disebutkan.

Fenomena tersebut, apakah bisa disebut langkah maju, jalan di tempat, atau mundur. 

Tergantung orang tersebut melihat dari sisi mana (subjektivitas), bisa saja disebut langkah maju bagi orang-orang yang punya kepentingan atau orang yang direkomendasikan pihak tertentu untuk duduk diposisi itu dan akhirnya terpilih, dianggap jalan di tempat bagi orang-orang yang tidak tertarik dengan rekrutmen tersebut (apatis) karena peserta yang terpilihnya pasti itu-itu saja, atau bisa jadi disebut suatu kemunduran bagi orang-orang (peserta rekrutmen) yang merasa tidak puas atau dirugikan dengan alur (pembobotan nilai hanya menggunakan nilai hasil wawancara saja) yang ditetapkan oleh panitia rekrutmen.

Bahkan ada pemeo yang mengatakan "tidak perlu nilai tinggi, yang paling penting (nomor 1) kuat rekomendasi dalam rekrutmen ini", penulis yakin masih banyak panitia rekrutmen yang mempunyai komitmen, integritas, dan akuntabilitas yang tinggi dalam melaksanakan tugas mulia ini. Fenomena yang terjadi di atas hanya bagian kecil dari kurang jelas dan transparannya informasi yang diberikan oleh panitia tingkat kecamatan dan mesti dibenahi oleh penyelenggara di atasnya (tingkatannya), kalau dibiarkan terus berulang, fenomena tersebut akan menjadikan persaingan yang tidak sehat dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone