Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Supir - Let There Be Love

(PPTBG) Pensiunan Penyanyi The Bee Gees

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bangku Kosong Malioboro

24 Januari 2023   14:33 Diperbarui: 24 Januari 2023   14:43 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bangku Kosong di Malioboro (Dokumen Pribadi)

Pagi menyeruak embun masih menyeruput, bangku pedestrian Malioboro itu masih kosong sehabis tertinggal beku dari kepadatan semalam.  
Saya suka suasananya, kekosongan, belum banyak suara, belum banyak sinar warna-warni, belum hadir pernak-pernik penjaja. Jalanan aspal masih dipenuhi udara dari dasar hingga langit, saya menghirup dan melonjorkan kedua tungkai di atas bangku sepi memandang atap bangunan hingga ke awan, seperti membebaskan bola mata lepas semau hendak kemana sampai Bering Harjo.

Saya suka ketika hari membuka di tepi jalanan Malioboro kerna enggak perlu lagi mengumpulkan segala pikiran yang tertinggal, bisa sejenak menepikan kenangan yang selalu datang bersama sibuknya mentari.  Saya senang berada di pintu matahari yang belum membuka sehingga saya bisa mengeluarkan segala beban yang telah bergumpal di benak. 

Hanya di pinggir pagi saya merasa terselamatkan bahwa di waktu pagi yang singkat ini saya bisa menguras isi yang ada di dalam otak saya. Dan ini saya lakukan saban fajar, entah sudah keberapa, barangkali berbulan atau bahkan bertahun, hanya itu yang saya kerjakan buat pagi yang selalu tiba di kaki Malioboro.

Sampai saat hampir selesai benak saya terkuras, seorang perempuan mendekati dan mengambil duduk di samping saya.
Nderek ya mas! Katanya dingin.

Saya menatapnya untuk menelisik dari arah mata angin mana tiba-tiba saja sosoknya hadir, tidak seperti biasanya. Saya mengangguk menyerahkan tubuh langsingnya menyentuh papan bangku. Dia bergerak lembut seperti angin tapi dingin, rambutnya panjang jatuh lurus terberai. Wajahnya sepucat pagi, dagunya tirus dan matanya indah meski lelah.

Aku sudah sering melihat panjenengan di kursi ini! Katanya tanpa menoleh.
Ah, kamu memperhatikan saya? Kata saya
Apa yang mas cari sih?
Saya mencari pagi?
Perempuan itu senyum di kulum, bibirnya merekah. Untuk apa? Tanyanya.
Membuang kenangan! Jawab saya.
Dia tersipu! Kamu seniman?
Saya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan anehnya.
Maaf, anda darimana? Tanya saya.
Pasar Kembang!
Mas darimana?
Sekitar sini!
Pantas aku selalu melihatmu!
Kamu memperhatikan saya?
Tidak! Aku melihatmu!

Perempuan itu lalu bangkit.
Maaf aku pergi dulu.
Pulang?
Tidak!
Kemana?
Aku mesti ke rumah sakit!
Kenapa?
Bapakku sakit.
Sakit apa?
Pendarahan otak!
Maaf! Saya menyesali pertanyaan saya, maafkan! kata saya perlahan.

Perempuan itu mematung, namun parasnya terlihat mendung, matanya menjadi bola kaca berisi air mata. Dia mengusap bening matanya sebelum jatuh. Saya memegang bahunya yang ramping lalu dia menyerahkan kepalanya di bahu saya untuk meledakkan tangisnya. Perlu sepuluh menit menenangkannya sampai sesenggukannya lenyap.

Saya akan mengantarmu ke rumah sakit! Saya menawarkan
Dia menggeleng bahu. Tidak usah!
Tidak mengapa! Lagipula saya telah menyelesaikan pagi saya hari ini!

Dia menatap dengan sinar mata sedikit aneh, namun saya tak mengacuhkannya, saya hanya ingin menghibur kalbunya yang galau.
Saya pun menggandengnya menuju parkir dan menyalakan sedan saya lalu melaju menebas jalan yang masih mengantuk.
Hanya sesingkat kami menderu dan kami telah tiba di rumah sakit, perempuan itu bergegas menarik lengan saya ke satu sal tersendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone