Mohon tunggu...
Chaulah Lutfiyana
Chaulah Lutfiyana Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya

Chaulah Fi, seorang gadis yang dilahirkan di pulau Garam 19 tahun lalu. Fi juga merupakan seorang mahasiswi aktif jurusan Psikologi di salah satu Universitas yang berada di Surabaya. 19tahun hidup, walau tergolong masih belia, namun beberapa hal mendorongnya untuk terus menulis, salah satunya adalah mimpi untuk dapat terus melanjutkan hidupnya. Fi memiliki minat yang tinggi di dalam bidang avokasional

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Depresi Anterpartum

24 Januari 2023   12:15 Diperbarui: 24 Januari 2023   12:16 44
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Anterpartum memiliki artian "Sebelum melahirkan", depresi ini hanya dialami selama masa kehamilan seorang ibu, padanan kata dari depresi anterpartum juga lebih dikenal sebagai depresi ibu, dan juga depresi prenatal. Depresi ini didukung oleh perubahan mood ibu selama masa kehamilan, dengan beberapa gejala, yaitu :

  • Perasaan sedih yang berkepanjangan
  • Lebih sensitive
  • Mudah tersinggung
  • Gelisah
  • Tidak memiliki harapan terhadap masa depan
  • Gangguan tidur berupa  mimpi buruk maupun insomnia
  • Turunnya nafsu makan
  • Turunnya libido
  • Gangguan interaksi sosial
  • Mudah lelah
  • Sakit kepala
  • Gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
  • Susah berkonsetrasi maupun gangguan dalam mengingat
  • Halusinasi sehingga beresiko mencederai diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya

Faktor-faktor yanag memengaruhi munculnya depresi anterpartum, diantaranya : faktor fisik/biologis, faktor psikososial, faktor psikologis dan faktor sosial ekonomi.

  • Faktor Biologis

Faktor biologis yang dapat melatarbelakangi adanya depresi anterpertum meliputi patologi sistem limbik, ganglia basalis, hypothalamus serta faktor hormonal.

  • Faktor Psikososial

Faktor psikososial yang dapat melatarbelakangi adanya depresi anterpertum berupa kegagalan dalam perkawinan, kurangnya dukungan dari pasangan dan orang terdekat lainnya.

  • Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang berkontribusi terhadap terjadinya depresi anterpartum addalah ibu dengan tingkat ketergantungan yang tinggi, sehingga biasanya cenderung memiliki harga diri yang rendah, tidak asertif, dan menggunaan ruminative coping (mengacu pada focus pasif dan berulang dikarenakan kemarahan dan frustasi). Beberapa ahli menyatakan bahwasanya seseorang yang sedang merasa tertekan akan cenderung memiliki focus  pada tekanan yang dirasakannya dan secara pasif merenung dibandingkan mengalihkannya atau melakukan aktivitas guna merubah situasi buruk tersebut.

  • Faktor Sosial Ekonomi

Faktor lainnya yang dapat menjadi pencetus depresi dalam kehamilan adalah faktor sosial ekonomi berupa gaya hidup misalnya penggunaan zat-zat yang berbahaya terhadap kehamilan seperti rokok, obat-obatan, alkohol, narkotika. Faktor demografi seperti usia ibu, pendidikan, pekerjaan, paritas, budaya atau norma yang berlaku

Seorang ibu hamil dapat mengalami depresi antepartum tanpa adanya penyebab sama sekali, tetapi karena murni kehamilan. Namun, ada beberapa penyebab yang mampu mendorong seorang ibu hamil untuk mengalami depresi antepartum, yaitu:

Wanita yang sudah pernah mengalami depresi sebelum kehamilan, maka dirinya memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami depresi antepartum saat kehamilan.

Dampak Depresi Antepartum pada Kehamilan

  • Seorang ibu hamil yang mengalami depresi antepartum dapat mengalami komplikasi, seperti preeklamsia. Preeklamsia merupakan suatu kondisi ibu hamil yang mengalami tekanan darah tinggi.
  • Selain itu, depresi juga dapat menyebabkan bayi yang lahir memiliki berat badan di bawah normal, hingga bayi tersebut lahir secara prematur. Tidak hanya itu saja, seorang perempuan yang mengalami depresi saat kehamilan, maka dirinya akan lebih berisiko untuk mengalami depresi setelah melahirkan (depresi post-partum)
  • Mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin
  • Terganggunya produksi neuraladrenalin, serotonin, dan gotamin
  • Resiko perdarahan pada masa kehamilan
  • Resiko terjadinya aborsi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone