Mohon tunggu...
Jefri Suprapto Panjaitan
Jefri Suprapto Panjaitan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

pecandu kenangan, penikmat masalalu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Wanita Berbusana Telanjang

25 Januari 2023   12:20 Diperbarui: 25 Januari 2023   12:39 30
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sebuah lorong sempit yang diapit oleh dua tembok tinggi penuh dengan coretan-coretan berwarna terang, terletak di sudut kota yang konon kabarnya tempat seorang gadis desa menghabiskan malamnya mencari rezeki. Tak terlihat satupun gedung dalam lorong itu, jalannya saja membentuk banyak genangan air yang dihiasi sampah plastik di sekelilingnya. cahaya lampu saja tidak ada, yang ada hanya cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari sela-sela atap terpal yang sudah berlubang.

terlihat samar dari kejauhan, seorang gadis belia bertubuh cukup tinggi diselimuti gelapnya malam, berdiri sambil menyandarkan badannya ke dinding yang sedikit berlumut. sebatang rokok yang telah dibakar disekat jari, sesekali ia hisap dengan perlahan, Asap rokok yang ia hembuskan terlihat menemaninya mengobrol di lorong yang minim pencahayaan itu. Tak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya, tempat yang hanya diterangi cahaya bulan yang memaksa masuk dari sela atap yang berlubang itu, seakan sudah menjadi sahabat lamanya.

Tiba-tiba remang-remang dalam lorong tersebut, ditembus dan dipecah oleh cahaya terang yang muncul dari pintu lorong sebelah selatan. Semakin lama semakin dekat, cahaya itu tampak menyentuh seluruh tubuh gadis berbusana merah. Dia membiarkan cahaya itu memperlihatkan parasnya ke khalayak ramai. Memang sungguh indah dipandang mata, bentuk tubuh yang dipeluk erat oleh busana merah ketat terlihat jelas, Gincu merah yang ia oleskan di kedua bibirnya serasi dengan busana merah pekat yang cukup ketat membalut tubuhnya tadi. Kulit bersihnya memantulkan cahaya yang tak memberikan sedikit pun rasa silau di mata.

Kemudian cahaya itu berhenti dan menghilang tepat di hadapan gadis belia itu. Tampak dari kejauhan laki-laki yang memecah remang dalam lorong itu mengajak dia mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan saya tidak tahu. Yang terlihat, dia berbincang sambil menyodorkan kepada gadis yang ada di hadapannya, sebungkus rokok yang baru saja dirogoh dari kantong celana sebelah kanannya. Gadis itu mengambil sebatang rokok dan dinyalakan laki-laki itu korek api untuk membakar rokok gadis itu. Dibalik alunan asap rokok yang saling bercengkrama layaknya tuan yang menciptakan mereka, obrolan semakin serius.

Cahaya yang menembus lorong gelap tadi kembali muncul, gadis belia itu membuang rokok yang masih sisa setengah dari tangannya, dia hembuskan asap terakhir dari sela kedua bibir merahnya. Lalu dia naik ke pangkuan motor laki-laki itu. Mereka bergerak mendekat kearah saya yang berada di pintu lorong sebelah utara. Cahaya itu membelah gelap dalam lorong walaupun akhirnya gelap tetap menguasai kembali tempat tadi.

Saya melepaskan pandangan dari lorong yang diberi nama gang layang itu. Nama itu saya ketahui setelah melihat tulisan hitam, tepat di tembok sebelah kanan gang tersebut. Langkah kaki saya menjauh dari tempat itu, menuju ke arah warung kopi yang tepat di seberang jalan gang tersebut. Terbilang ramai untuk ungkuran warung kopi yang tidak terlalu besar. Saya duduk dan meminta secangkir kopi kepada wanita paruh baya pemilik warung kopi tersebut. Tempat duduk saya tepat mengarah ke pintu masuk gang tempat saya berdiri tadi. 

Saya pikir, seharusnya orang-orang yang berada di warung kopi itu juga pasti melihat apa yang saya lihat tadi. Ingin rasanya bertanya, namun niat itu saya urungkan setelah mendengar teriakan "gollll" dari orang-orang yang sedang menonton pertandingan sepak bola yang mempertemukan Persija Jakarta dan Persib Bandung, 1-0 untuk Persija Jakarta. 

Gol dicetak oleh Rico simanjuntak, pemain berdarah batak asal Pematang Siantar. Wajar teriakan itu cukup kencang, mereka-mereka yang ber jersey Persija lebih mendominasi di warung kecil itu. Saya ikut menonton, walaupun hanya tersisa 15 menit lagi. Peluit panjang tanda pertandingan telah selesai sudah dibunyikan, pertandingan berakhir dengan kemenangan Persija Jakarta 1-0.

Kembali saya menikmati secangkir kopi yang telah disuguhkan oleh barista warung kopi kecil tempat yang saya pilih untuk menghabiskan malam sebelum kantuk memanggil. Kopinya tak kalah enak dengan buatan barista caf yang dihiasi lampu berwarna-warni di pusat kota sana. Saat sedang menikmati kopi, terdengar suara langkah kaki mendekat kearah meja tempat duduk saya. 

Secangkir kopi persis seperti punya saya diletakkannya tepat di dekat cangkir kopi milikku. Laki-laki berpakaian serba hitam (mungkin dia suka warna hitam pikirku) duduk di kursi panjang yang mengapit meja kecil dihadapanku.

"orang mana bro, saya baru lihat kamu disini?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone