Hidup tanpa cinta bagai makan tanpa garam. Hambar. Hidup dengan cinta bagai makan dengan sambal. Kadang pedas tapi nikmat. Lalu bagaimana jika cinta itu putus ditengah jalan?
Dalam ajaran islam, pacaran adalah istilah yang tidak dilarang. Yang dilarang adalah mendekati zina. Terkadang aktifitas yang terlihat seperti mendekati zina ini marak dilakukan oleh orang yang berpacaran. Inilah fenomena yang sudah menjadi pembiasaan.
Cinta antara dua insan, diimplementasikan dengan aktifitas yang selalu berdua. Seperti makan berdua, jalan-jalan berdua bahkan membangun bisnis berdua. Sehari saja tidak berjumpa bisa pusing kepala karena rindu.
Sekian lama menjalani kegiatan berdua dalam bingkai hubungan "pacaran" membuat keterkaitan emosional yang lebih dalam. Seperti rasa sayang dan takut kehilangan karena merasa sedih senang bisa bersama-sama.Â
Dan ketika bingkai "pacaran" itu patah dan tidak bisa disambung lagi, maka perasaan emosi pun bergejolak. Â
Menangis adalah bentuk luapan emosi yang sering menjadi pelampiasan. Yang mungkin kita akan lebih merasa lega setelah menangis.Â
Namun rasa kehilangan, stres, hilang semangat, hilang nafsu makan sampai hal ekstrim seperti ingin mengakhiri hidup pun kerap terjadi. Galau tingkat dewa yang membuat makan tak enak tidur tak nyenyak berpotensi untuk kehilangan kontrol diri.
Padahal, putus cinta mungkin merupakan hal yang membuat kita lebih bisa bersikap dewasa. Menjadi pribadi tangguh yang bijaksana dalam menyikapi masalah. Dan yang lebih penting kita bisa memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih baik untuk menyayangi dan mencintai kita.
Putus cinta adalah hal baik dari Tuhan yang menyelamatkan kita dari salah memilih pasangan. Putus cinta bukanlah akhir dari perjalanan hidup, tapi merupakan awal kesuksesan yang lebih bisa diraih dengan lebih baik.
Dan alangkah indahnya jika pacaran dilakukan setelah menikah. Karena bukan hanya cinta dan sayang yang akan lebih di rasa, tapi limpahan pahala dari Allah ketika cinta dan sayang itu dilakukan setelah syah halalnya.Â