Mohon tunggu...
dwi ermanto
dwi ermanto Mohon Tunggu... Sales - Karyawan Swasta

Ingin mengasah kemampuan saya di bidang jurnalistik dan digital πŸ‘

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Broken Home

22 Januari 2023   22:57 Diperbarui: 22 Januari 2023   23:02 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Cerita dan kisah ini diambil dari kisah nyata. Hidup di keluarga yang tidak utuh memanglah tidak mudah apalagi ditambah dengan keadaan faktor perekonomian yang serba kekurangan. Namun meski begitu hidup harus tetap dijalani apapun kondisi dan keadaannya. Langsung masuk saja ke cerita inti. Sejak dilahirkan dengan kondisi yang tidak sehat akhirnya aku harus hilir mudik dari Rumah Sakit ternama hingga swasta dari umur 3 bulan hingga 12 tahun, bahkan dokter sempat memvonis aku dengan berkata "kalau anak ini umur 12 tahun belum sembuh juga, mau gimana lagi." Dengan nada agak sedih. Namun Tuhan berkata lain. Semenjak aku dilahirkan hingga sekarang sudah berkeluarga, belum pernah sama sekali bertemu dengan ayah kandung ku. Dari bayi hingga sebelum aku menikah kakek dan nenek ku lah yang merawat dan membesarkan aku. Aku berusaha semaksimal mungkin agar bisa membuat orang tuaku bangga dan bahagia. Dari kelas 1 SD hingga Lulus SMA alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa terus. Namun prestasiku tidak ada apresiasi dari keluarga. Menurutku ya sudah tidak apa-apa, mungkin bukan ini yang mereka mau. Di suatu ketika pas aku duduk di bangku SMP pas pembagian buku raport aku merasa sangat bersedih sekali ketika melihat teman-temanku mengambil raport bersama Ibu dan Ayah kandung mereka, namun tidak denganku. Kakek lah yang selalu ada buatku. Yang aku ingin sampaikan kepada mereka ialah hanya kasih sayang dan perhatian udah cukup itu saja. Ketika aku sudah menikah, aku berfikir jangan sampai anak ku seperti aku yang tidak bersama dengan kedua orang tuanya. Karena hal tersebut sangatlah tidak enak, apapun kondisi dan situasinya aku akan menjaga keharmonisan dengan keluarga kecil ku. Agar anak tidak menjadi korban. Cukup aku saja yang merasakan hal tersebut. Pesan ku ialah "Perpisahan sangat menyakitkan dan akan banyak memakan korban terutama anak dari segi mental dan tumbuh kembangnya. Jaga keluarga agar tetap utuh supaya hidup kita tidak berantakan, dan semoga selalu diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tetap semangat menjalani hidup, karena hidup adalah sebuah perjalanan." Terimakasih.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone