Mohon tunggu...
eka hariyanti
eka hariyanti Mohon Tunggu... Guru - Guru sdn 35 salimpat

Hobi jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Diary

Hujan

23 Januari 2023   02:09 Diperbarui: 23 Januari 2023   02:49 51
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Hujan

Saat hujan datang serasa ada sebagian jiwa ku yang ikut tersiram. Mengingatkan kenangan puluhan tahun silam saat aku masih kanak- kanak.
Aku yang terpisah jauh dari kedua orang tua. Bertemu mereka mungkin hanya setahun sekali. Ada sedih tak berujung kala itu. Ingin protes tak tahu pada siapa, ingin menangis tak ada tempat mengadu. Jadilah ketika hujan datang , aku akan pergi ke sungai melebur air mata dengan air hujan.
Ya, aku sengaja meratap , mengadu pada hujan akan kesedihan panjang yang ku rasakan. Tak peduli sekeras apa pun tangisanku ada hujan yang akan meleburnya. Tak perlu orang lain tahu deritaku. Cukup hujan yang mengerti segala gundah ku.

Aku bebas meratap tanpa takut orang lain akan mendengarkannya. Aku yang kala itu merasa paling terzolimi tapi tak tahu oleh siapa. Aku yang kala itu tak punya siapa pun untuk berbagi.
Pernah mencoba menuliskan pada lembaran putih  tapi tak pernah berani untuk berbagi kisah, ada rasa takut menelungkup di hati. Takut ketika orang lain tahu yang kemudian akan jadi aib yang merusak segalanya.
Takut jika mereka akan terluka atas sikapku. Entah berbagai macam ketakutan tak beralasan menghantui tiap  langkahku.

Aku kadang iri melihat teman yang memiliki orang tua lengkap di sisi mereka, sementara aku memiliki mereka tapi tak pernah ada saat aku butuh.
Kadang berpikir tak apa hidup susah asal ada sosok ibu untuk bermanja. Tak apa uang jajan kurang asal ada ayah tempat bersandar. Namun takdir berkata lain. Aku yang nota bene punya nenek yang katanya sangat mencintai aku tapi malah memisahkan aku dari orang tua ku.  

Saat kutanya kenapa begitu, jawab beliau cukup simpel agar kelak aku bisa di sekolahkan paman guna balas budi.
Aku yang tak mengerti kala itu, mencoba protes tapi hasilnya nihil.
Mungkin memang jalan hidupku akan seperti itu. Kelak semua itu akan cukup berpengaruh dalam perjalanan hidupku.

Jiwa keras kepala, memberontak yang pada akhirnya merubah segalanya.
Aku layaknya nahkoda yang kehilangan kendali, tak punya pegangan dan kendali . Hanya sedikit iman yang kelak menuntun langkahku, hingga aku bisa hadir dalam wujud begini dikemudian hari. Tuhan maha baik, saat hambanya kehilangan arah dan tujuan hidupnya, setetes iman yang Dia selipkan dalam sanubari mampu melindungi ku dari kekufuran yang merajai jiwa.

Pernah kala rasa putus asa datang , tak ada sandaran, rasa ingin mengakhiri hidup merajai jiwa. Tapi rasa takut kala itu masih nomor satu, pikirku bagaimana jika percobaan bunuh diri itu gagal? Yang kudapat bukankah rasa malu? Belum lagi cemooh orang sekitarku.
Mungkin itu bisikan Tuhan hingga usaha meletakkan silet di bawah bantal kala itu benar saja gagal total.
Nauzubillah jika itu benar terjadi.
Belum lagi pernah menegak aspirin dalam jumlah berlebihan. Yang ku alami hanya muntah berkepanjangan dan sempoyongan.

Pertolongan Tuhan itu nyata adanya. Berkali istighfar yang kulafazkan seakan belum mampu menepis dosa besar ku kala itu. Hingga hari ini jika rasa bersalah itu muncul aku merasa kasihNya begitu besar untuk ku .  Kenapa kala itu aku tak datang padaNya?

Jiwa kanak- kanak yang memang belum cukup paham akan hal itu lebih mendominasi. Merasa  diabaikan, tak diharapkan dan segala bisikan setan lainnya seakan memenuhi kepala ini .
Namun aku bersyukur bisa tegap berdiri. Kepedihan hidup yang pernah ku lewati seakan jadi pelajaran berharga hingga saat ini.

Aku akan sangat menikmati hujan yang datang. Saat orang merasa takut kedinginan, aku malah bersemangat menikmati tetesannya.  Berharap hujan mengetuk hati orang tuaku kala itu. Berharap lewat hujan dada terasa lapang dan beban hati terasa ringan.

Aku yang diterpa berbagai cobaan hidup mampu berdiri tegak hingga bisa melewati semuanya. Syukur tak berhingga akan cintaNya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone