Mohon tunggu...
Firman Rahman
Firman Rahman Mohon Tunggu... Lainnya - Yuk Bahagia...!!!

Penikmat perjalanan | www.firm.my.id |

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Analisis Kredit, Sebuah Dilema antara Beban dan Target

23 Januari 2023   08:30 Diperbarui: 23 Januari 2023   08:31 64
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar ilustrasi (Pict: Dokumen pribadi)

Analisa Kredit, Sebuah Dilema Antara Beban dan Target - Berbicara tentang sebuah industri maka didalamnya pasti memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendapatkan keuntungan. Salah satunya disini yang akan kita bahas adalah industri perbankan. Sama dengan industri-industri yang lain, sebagai sebuah indutri yang berbasis laba maka fokus utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Begitu juga di Indonesia, perbankan di Indonesia masih mengandalkan keuntungan dari bunga kredit sebagai fokus utama dalam usahanya.

Untuk mendapatkan keuntungan tersebut, industri perbankan di Indonesia masih mengandalkan sektor kredit sebagai andalan, dengan kata lain secara prosentase sektor kreditlah yang paling besar memberi andil dalam menyumbang keuntungan tersebut.

Kembali pada konsep “high return high risk, low return low risk”, kredit yang disalurkan kepada peminjam atau debitur memiliki risiko yang tinggi dalam pengembaliannya, sehingga untuk menghindari risiko tidak kembalinya pinjaman atau kredit tersebut diperlukan perangkat yang tepat untuk menghindari macetnya kredit tersebut.

Fungsi bank sebagai lembaga yang menyalurkan dana yang telah dihimpun dari masyarakat, saat ini masih berperan dalam proses bisnis usaha di Indonesia. Dan peran kredit ini dibutuhkan oleh perusahaan atau pun perorangan dalam kondisi antara cash in flow dan cash out flow berjalan tidak seimbang pada kurun waktu tertentu. Atau bisa dikatakan lebih besar dana yang keluar lebih besar dibandingkan dengan dana yang masuk.

Pada internal perusahaan pada kurun-kurun tertentu, terjadi kenaikan penjualan fantastis, pada perusahaan yang memiliki keterbatasan modal menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan dalam pendanaan, misalnya tidak adanya dana dalam pembelian bahan baku dalam jumlah banyak, yang menyebabkan perusahaan kesulitan dalam memberikan jangka waktu kredit atau tempo pembayaran kepada Customer.

Nah disinilah peran kredit dibutuhkan oleh perusahaan yang membutuhkan dana untuk pengembangan usahanya.

Dalam proses penyaluran kredit tersebut, dibutuhkan satu perangkat yang tepat, bukan untuk menghilangkan risiko, namun untuk meminimalisasi risiko. Salah satu alat yang digunakan adalah “Analisa Kredit”.

Proses pemberian kredit itu layaknya kita meminum obat, takarannya harus tepat, jangan berlebih, dan harus sesuai dengan tujuan dan penggunaannya. Karena pada kasus-kasus yang sering terjadi, timbulnya kredit bermasalah dikarenakan penggunaan kredit yang tidak sesuai dengan tujuan peruntukan kredit yang diberikan dan jumlah plafon kredit yang tidak sesuai dengan kebutuhan usaha.

Sebenarnya pemberian kredit kepada pihak yang membutuhkan (debitur) didasarkan atas kepercayaan. Kredit berasal dari kata “credere” yang artinya percaya, sehingga pihak bank percaya bahwa kredit yang diberikan kepada para debitur akan kembali pada saat jatuh tempo kredit sesuai dengan kondisi yang tertulis dalam perjanjian kredit. Pentingnya unsur kepercayaan dalam pemberian kredit ditegaskan dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1992 pasal 8 “...dalam memberikan kredit, bank umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupam debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan”.

Target Kredit?

Setiap bank pasti mengharapkan adanya pendapatan, salah satunya adalah dengan memberikan target penyaluran kredit, baik pada sektor kredit mikro, kredit ritel, kredit menengah dan kredit korporasi. Karena pendapatan terbesar bank adalah pada sektor penyaluran kredit.

Namun demikian atas target kredit yang diberikan pada setiap marketing kredit jangan sampai taget ini menjadi beban dalam bekerrja, dan jangan sampai menyalurkan kredit secara sembarangan dan tidak terarah yang nantinya menjadi timbulnya kredit macet.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone