Mohon tunggu...
Firmanur Rohman
Firmanur Rohman Mohon Tunggu... Lainnya - Man jadda wajada - Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil

X-Banker, yang fokus di menulis, berwirausaha, dan sedikit belajar tentang investasi.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Secangkir Kopi untuk Sebuah Kata "BISA"

26 Januari 2023   05:38 Diperbarui: 26 Januari 2023   05:39 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Pict: Dokumen pribadi)

Secangkir Kopi Untuk Sebuah Kata "BISA" -- Siang kemarin menjadi aktivitas yang lain dari biasanya, karena selain hanya duduk dan nongkrong di sebuah bangku usang di ruko yang saya tempati untuk merenung, berpikir, memunculkan ide, sekaligus juga mojok untuk minum, meskipun hanya secangkir kopi hitam murahan. Namun, kenikmatan menikmati secangkir kopi ini mengingatkan perbincangan dengan kawan beberapa saat lalu.

Sebelum berbicara tentang perbincangan dengan kawan tersebut, saya baru ingat bahwa menikmati kopi itu seperti menikmati pilihan hidup, tinggal pilih mau menikmati kopi dengan rasa yang pahit, rasa yang manis atau pun campuran antara rasa pahit dan manis yang biasa disebut dengan legit, atau bisa saja dengan memberikan sensasi rasa yang agak masam. Nah, begitu juga dengan kehidupan, semuanya memberikan pilihan agar kita bisa menikmatinya.

Sama seperti yang disampaikan seorang kawan di akun instagram dari Kopi Pak Wawan bahwa kenikmatan kopi memberikan manfaat yang luar biasa untuk meningkatkan fungsi dan kinerja otak, mulai dari ingatan, mood, agresivitas, semangat kerja, kecepatan reaksi dan kemampuan kognitif lainnya.

Rasanya menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas memang memberikan rasa dan sensasi yang luar biasa dalam memberikan semangat. Kembali pada topik pembicaraan di atas, tentang kehidupan kawan di tempat kerjanya yang mulai berat, target yang semakin besar, harus meng-handle beberapa pekerjaan karena teman yang menempati posisi sebelumnya resign.

Sebenarnya hal ini tergantung cara kita dalam menyikapi, mau menerima segala konsekwensi atau kalau memang tidak mau melakukannnya, dengan jantan mengeluarkan surat resign juga. Wah sesuatu yang sangat ekstrem juga sepertinya.

Kondisi tersebut di atas sebenarnya sama dengan hal ini, ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, dengan prestasi yang cukup bagus, disegani teman-temannya, juga menjadi tempat bertanya oleh atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia menolak karena takut dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi area manager yang sarat dengan tugas-tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan administrasi.

Ada juga cerita tentang seorang staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, namun tidak pernah bisa meraih promosi jabatan karena di tempat atau posisi yang sekarang adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika ditawarkan jabatan di bagian marketing, yang bersangkutan tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang marketing.

Nah kawan, dari kejadian di atas sepertinya pernah kita alami. Mungkin saja sekarang dialami kawan-kawan sekalian. Menurut Robert Kwan dalam bukunya "Coffee Break", coba kita lihat diri kita sendiri, "adakah seutas benang yang menghambat diri kita saat ini?". Menurut Kwan, putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung kita.

Kita pasti bisa kalau kita berpikir "bisa", dan kita akan gagal kalau kita selalu berpikir kita akan "gagal". Sebenarnya peluang demi peluang itu muncul setiap hari, dan karena selama ini kita menutup mata, telinga, pikiran, diri, dan hidup kita, maka peluang itu menjadi bukan peluang, dan lewat begitu saja.

Oleh karena itu kawan, mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau anda masih gamang, kemudian berlarilah dengan cepat setelah lebih yakin. Dan yang pasti jangan sia-siakan setiap peluang untuk maju, untuk berhasil, demi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone