Mohon tunggu...
Fredeswinda Wulandari
Fredeswinda Wulandari Mohon Tunggu... Guru - pemerhati pendidikan di sebuah sekolah swasta di Kabupaten Semarang

Penyuka kopi, Harry Potter, dan cerita fantasi. Melamunkan yang akan datang dengan harapan akan dijamah Sang Pemilik Semesta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Seberkas Bara Sepasang Mata (Bagian 1)

25 Januari 2023   12:46 Diperbarui: 25 Januari 2023   13:15 72
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Masih terlihat beberapa sepeda motor yang tersisa di parkiran sekolah. Kedua anak manusia berseragam putih abu itu berdiri di antara sebuah motor matik entah apa merknya.  Mereka hanya terdiam. Lelaki itu memegang setang motor sebelah kanan sambil sesekali melirik perempuan di depannya. Sedangkan perempuan berambut pendek sepundak hanya memegang jok motor seakan setia menunggu.

 Beberapa kali mereka hanya menarik nafas berat.

"Kita harus bagaimana? Apa tidak cara lain?" Perempuan itu berbisik pelan namun angina berbaik hati menyampaikan suaranya ke telinga Jupiter, lelaki berambut belah tengah itu.

Jupiter memandang wajah cantik di depannya. Dia dan Cella belum lama ini menjalin cinta, walaupun juga masih cinta yang dikata orang cinta monyet. Belum ada hitungan tahun, masih beberapa bulan berjalan. Namun, dia tak dapat menyangkal bahwa kehadiran Cella dalam hidupnya sungguh memantik semangat belajarnya. Dia menemukan motivasi untuk belajar lebih giat dan menyelesaikan studinya tepat waktu. Tak dapat disangkal juga, Cella adalah cinta pertamanya.

Bagi Jupiter, Cella yang memang keturunan Jawa memiliki kulit yang bersih walaupun tidak juga bisa dibilang putih seperti dirinya. Hanya kebetulan saja mata Cella terlihat mirip seperti dirinya, sipit. Walaupun mata Cella tidak sesipit matanya sendiri, justru itu menambah kecantikannya. Itu pula yang membuat Jupiter sangat tertarik pada Cella.

Waktu terus berjalan dan mereka masih betah berdiri di sana, di bawah pohon ketepeng yang berdaun lebar. Lumayanlah untuk melindungi dari sorotan mata mentari yang juga ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.

 "Ayo, kuantar kamu pulang. Kita pikir lagi sambil kita jalani saja setiap hari," ajak Jupiter, dan segera naik ke jok motor, disusul Cella duduk di belakang Jupiter. Sebentar kemudian, deru motor matik keluar dari halaman sekolah meninggalkan asap tipis.

****

Jupiter termenung di atas ranjangnya. Dia kembali memikirkan semua yang terjadi antara dia dan Cella. Terkadang timbul sesal dalam hatinya. Seandainya hari itu Cella tidak datang ke rumahnya, dia yakin semua ini tidak terjadi.

Keluarga Jupiter adalah salah satu warga keturunan Cina yang ada di kota kecil ini. Seperti halnya, keluarga keturunan yang lain, keluarga Jupiter mempunyai usaha dagang yang lumayan besar dan cukup laris. Toko kain milik keluarga yang sudah sejak jaman kakek neneknya masih berdiri megah di antara toko moden yang semakin menjamur di kota kecil itu.

Hari itu, Cella datang ke rumah Jupiter untuk pertama kalinya sekalian akan dikenalkan kepada orang tua Jupiter setelah sekian minggu mereka jadian. Ternyata pertemuan itu berubah tak sesuai harapannya. Beberapa karyawan minta izin karena ada keperluan keluarga. Jadi, hanya ada satu karyawan membantu orang tua Jupiter di toko kain. Sebagai imbasnya, Jupiter dan Cella, tentu saja, diminta membantu di toko kain.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone