Mohon tunggu...
Halimatus Sakdiyah
Halimatus Sakdiyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

belajar

Selanjutnya

Tutup

Surabaya

Sejarah Awal Islam di Pulau Jawa

3 Januari 2023   14:33 Diperbarui: 13 Januari 2023   16:47 136
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Surabaya. Sumber ilustrasi: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Sebelum masuknya islam, masyarakat jawa telah menganut agama Hindu-Budha, dan kepercayaan terhadap nenek moyang. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan sejarah seperti candi-candi, patung, maupun prasasti.

Adapun dijawa, Kerajaaan Hindu terakhir sebelum adanya Islam adalah Majapahit di Jawa Timur. Kerajaan ini merupakan kelanjutan Singhasari yang juga memiliki ambisi perluasan daerah. 

Dan Tentang masuknya Islam di Jawa terdapat perbedaan pendapat diantara para ahli. Hal ini disebabkan tidak adanya sumber yang pasti mengenai kedatangan islam dijawa. Namun, menurut beberapa ahli diperkirakan Islam masuk dijawa sekitar abad ke-11 dengan bukti adanya makam Fatimah Binti Maimun di Desa Leren Kabupaten Gresik yang berangka tahun 475 H (1085 M). Selain itu dengan ditemukanya makam-makam dijawa timur, yaitu Trowulan dan Troyolo, dikekat situs istana Majapahit yang bersifat Hindu-Budha. Batu-batu itu menunjukan makam orang muslim.

Penyebaran Islam di Jawa. Pertama di Walisongo, perkembangan perkembangan islam dijawa tidak terlepas dari jasa para Walisongo. Perkataan wali berasal dari Bahasa Arab wala, atauz waliya yang berarti qoroba yaitu dekat. 

Pembentukan Walisongo merupakan inisiatif dari Sultan Turki Muhammad I yang memerintah tahun 1394-1421. Berdasarkan laporan dari seorang saudagar India yang mengatakan bahwa di Jawa sudah terdapat komunitas Islam, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Oleh karena itu Sultan Muhammad I membentuk Tim 9 yang beranggotakan orang-orang yang memiliki kemampuan diberbagai bidang,yang diketahui oleh Maulana Malik Ibrahim.

Dan Walisongo angkatan pertama merupakan bentukan dari Sultan Turki Muhammad I. Diantara anggota Walisongo angkatan pertama yaitu.

  • 1). Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli irigasi dan mengatur negara. Menetap di Gresiksampai wafad tahun 1419
  • 2),. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkan, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
  • 3). Maulana Ahmad Jamadil Kubro, dari Mesir
  • 4). Maulana Muhammad al-Magrobi, berasal dari Maroko (maghribi)
  • 5). Maulana Malik Isro'il, dari Turki, ahli mengatur negara
  • 6). Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran)
  • 7). Maulana Hasanudin, dari Palestina
  • 8). Maulana Aliyuddin, dari Palestina
  • 9). Syeh Subakir, dari Iran

  • Dan walisongo agkatan-angkatan berikutnya. Dan juga melalui saluran-saluran Islam di Jawa yaitu yang pertama:
  • Sarana Perdangangan. Nusantara merupakan wilayah yang sangat strategis, sehingga banyak disinggahi oleh para saudagar dari mancanegara. Di Jawa, pelabuhan yang banyak disinggahi oleh para saudagar adalah Tuban dan Gresik karena letaknya yang strategis yaitu ditengah jalur pelayaran dari Selat Malaka ke Maluku dan Banda. Lagipula, yang memperkuat kedudukanya ialah bahwa ada daerah pedalaman yangmempunyai produksi beras dan bahan makanan lain, sehingga memberi daya Tarik kepada kapal-kapal sengingga singgah disana. Selain berdagang, mereka juga bersosislisasi dengan penduduk setempat sekaligus mendakwahkan agamanya.

  • Sarana Pernikahan, para penyebar agama Islam di Jawa mayoritas merupakan para pedagang. Ketika berdagang, mereka tidak membawa serta isinya. Kemudian mereka menikah dengan wanita pribumi yang berasal dari warga bangsawan, dan sebagai syaratnya wanita tersebut harus terlebih dahulu memeluk Islam. 

  • Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan Muslim. Perkawinan dengan keluarga para bangsawan ini diharapkan mampu mempercepat proses Islamisasi di Jawa.

  • Sarana Kebudayaan/ Kesenian. Adapun seni ragam hias yang dipergunakan sebagai sarana Islamisasi priode awal adalah berupa seni ukir yang bermotif bungga-bungga dan sebagainya. Sebagaimana Islam melarang membuat patung secara natural, baik berupa binatang apalagi manusia. Oleh karena itu kebiasaan dan kemampuan dalam ukir/seni pajat diteruskan dan dialihkan untuk memahat atau mengukir gambar-gambar bungga, tulisan-tulisan, angka tahun peringatan atau kematian dengan huruf Aarab dan juga kaligrafi Arab, baik yang mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, Hadits ataupun kata-kata baik lainya.
  • Dan seni bangunan diJawa sebagian besar masih dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. Salah satunya adalah Masjid, Masjid yang dalam hal seni bangunan masih terpengaruh oleh kebudayaan Hindu adalah Masjid Demak, Kudus, Cirebon, Ampel ciri-ciri bangunan model seni bangunan lama yang merupakan peniruan dari seni bangunan Hindu-Budha itu adalah:

  • Atap tumpeng, yaitu atap yang bersusun, demikian atas demikian kecil dan yang paling atas biasanya mahkota.
  • Tidak ada Menara karenanya pemberitahuan waktu shalat dilakukan dengan memukul bedug. Dari masjid-masjid yang tertua, hanya di Kudus dan Banten yang ada menaranya.
  • Masjid-masjid tua, bahkan Masjid yang dibangun didekat Istana Raja Yogya dan Solo mempunyai letak yang tetap. Dan rangkaian makam dan masjid ini pada hakikatnya adalah kelanjutan fungsi candi pada jaman Hindu Indonesia.

  • Selain itu, tata letak masjid di Indonesia, sebagaimana diketahui bahwa pada priode kerajaan-kerajaan Islam, biasanya selalu saja pusat pemerintahan memiliki lima unsure pokok yang menggambarkan kosmis. Masing-masing adalah:
  • Sebuah lapangan atau halaman luas
  • Pusat pemerintahan dan pendopo terletak disebelah utara yang menghadap keselatan atau yang menghadap alun-alun.
  • Gedung penjara yang terletak disebelah Timur alun-alun
  • Pusat perekonomian (pasar) biasanya terletah diselatan alun-alun
  • Masjid berlokasi disebelah Barat alun-alun.

  • Seni Sastra. Seni Sastra yang ada diJawa salah satunya adalah Babad. Babad merupakan cerita sejarah. Pada masing-masing wilayah biasanya juga terdapat Babad. Misalnya Babad Tanah Jawi, Babad Gresik, Babad Demak. Seluruh Islamisasi melalui kesenian juga banyak digunakan oleh para wali seperti wayang, seni gamelan, karya sastra sebagai media dakwah. Menurut Badri Yatim, saluran Islamisasi melalui kesenial yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Seni gamelan juga digunakan oleh Sunan Bonang dan Sunan Drajat dalam dakwahnya. Karya lain dari seni Bonang adalah Kitab-kitab Suluk, misalnya Suluk Wujil, Suluk Sukarsa, Suluk Malang Sumirang.

  • Sarana Islamisasi dengan kesenian ini diharapkan oleh para wali dapat mempercepat proses Islamisasi terutama di Jawa, karena di Jawa pengaruh Hindu Budhamasih sangat kental dan tidak dapat serta merta dihapus, tetapi mereka mengisinya dengan ajaran-ajaran Islam.
  • Sarana Pendidikan. Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam. Salah seorang alumni pendidikan Ampel yang sangat masyhur yaitu Raden Patah, putra Brawijaya Majapahit, Ibundanya putri dari Istana Kerajaan Islam Samudra/Pase.
  • Sekiranya tahun 1476, dibentuk sebuah organisasi yang bernama Bayangkara Ishlah (Angkatan Pelopor Perbaikan), yang bertugas meningkatkan pendidikan dan pengajaran Islam. Dengan sarana pendidikan inilah Islam dapat berkembang hingga saat ini.

  • Sarana Tasawuf. Pengajar-pengajar tasawuf atau sufi, mengajarkan Teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini putri-putri bangsawan setempat. Dengan Tasawuf, "bentuk" Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara para ahli tasawuf memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam Indonesia pra-Islam adalah Hamzah Fansuri di Aceh. Syaikh Lemah Abang, dan Sunan Panggung dijawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang diabad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
  • Syekh Siti Jenar (Penyebar Tasawuf di Jawa)
  • Puncak dari ajaran tasawuf adalah yang dibawa oleh Al-Hallaj, Ibnu Arabi dan Al-Ghozali yang berkembang diIndonesia. Misalnya tasawuf yang diikuti oleh Syekh Siti Jenar yang terpengaruh oleh tasawuf Mansur Al-Hallaj dengan paham wujudiahnya (Wahdatul wujud).
  • Menurut Masyhudi, kebathinan Islam di Indonesia bermula di Sumatra. Kemudian berkembang sampai ke Jawa dan Indonesia Timur. Sebagian para ahli sejarah mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar merupakan salah satu dari anggota Walisonggo, tetapi sebagian juga mengatakan bukan termasuk anggota Walisongo. Namun, dengan ditemukanya dokumen Kroprak Ferara, maka sudah jelas bahwa Syekh Siti Jenar memang benar-benar ada dan termasuk dalam anggota Walisonggo. Meskipun dalam dokumen tersebut tidak dijelaskan secara menyeluruh tentang asal-usulnya. Dan pemikiran dan ajaran Syekh Siti Jenar masih banyak diikuti oleh masyarakat hingga saat ini. Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontversional adalah tentang Manunggaling Kawulo Gusti yang dianggap dapat menyesatkan umat. Menurut Syekh Siti Jenar. Tuhan memiliki hubungan dengan manusia dan alam ciptaan-Nya, hubungan itu dapat membentuk kehadiran Sang Tuhan dalam diri manusia sebagaimana diterangkan dalam konsepsi Wihdatul wujud yang nantinya memunculkan konsepsi ittihad.

  • Dengan konsep tersebut, menurut Abdul Munir Mulkhan bahwa Syekh Siti Jenar berpandangan bahwa mereka yang melakukan shalat, puasa, serta amalan syariat adalah orang awam, penuh kepalsuan. Intinya syariat adalah "menyembah" kepada Allah. Shalat dan dhikir menurut Syekh Siti Jenar bukan perintah Allah, tetapi semata-mata keluar dari dasar atau kesimpulan budi manusia. Setiap tarikan nafas merupakan Shalat untuk diri pribadi manusia sendri yang berarti untuk Tuhan semata. Dan menurut Simuh, dan menurut Simuh, diantara ordo-ordo tarekat atau aliran kebatinan kejawen tersebut banyak yang memiliki pemikiran yang sama dengan Syekh Siti Jenar, yaitu menunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawala Gusti, bahwa manusia berasal dari pancaran Allah. Yakni Allah diibaratkan sebagai sumber api yang Agung, manusia merupakan pletikan api Illahi. (digilib.uinsby.ac.id)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Surabaya Selengkapnya
Lihat Surabaya Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone