Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis.

Nomine Terbaik Fiksi (Penghargaan Kompasiana 2021). Peraih Artikel Terfavorit (Kompetisi Aparatur Menulis 2020). Pernah menulis opini di KompasTV. Kontributor tulisan dalam buku Pelangi Budaya dan Insan Nusantara. Enam buku antologi cerpennya: Rahimku Masih Kosong (terbaru) (Guepedia, 2021), Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (Guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (Guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (Guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (Guepedia, 2021). Satu buku antologi puisi: Coretan Sajak Si Pengarang pada Suatu Masa (Guepedia, 2021). Dua buku tip: Praktik Mudah Menulis Cerpen (Guepedia, 2021) dan Praktik Mudah Menulis Cerpen (Bagian 2) (Guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Keranjang Mata-mata

24 Januari 2023   06:25 Diperbarui: 24 Januari 2023   13:08 438
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi banyak mata dalam keranjang, sumber: Gerd Altmann dari Pixabay

Menurut Rene Dutrochet (1987), sel merupakan kesatuan pertumbuhan di mana setiap makhluk hidup dapat dikatakan bertumbuh apabila ada pertambahan volume tubuh yang disebabkan oleh pertambahan volume atau jumlah sel. Jauh lebih lampau, Robert Hooke (1665) sudah menggunakan kata "sel" sebagai satuan terkecil dari rongga di mana rongga-rongga dibatasi oleh dinding tebal dan jika dilihat secara keseluruhan strukturnya mirip sarang lebah. 

Masih ada lagi hasil temuan para peneliti lain tentang sel dan kurang lebih mereka sepakat bahwa tubuh manusia sebagai makhluk hidup tersusun dari sel-sel yang juga hidup. Pada sisi lain, kepercayaan orang-orang meyakini bahwa setiap yang hidup memiliki arwah, tidak terkecuali sel-sel itu. 

Pernahkah ada yang bertanya, mengapa kejahatan semakin menjadi akhir-akhir ini? Perkosaan tidak terbatas pada wanita cantik. Nenek-nenek yang hampir bau tanah pun balita yang masih merah-merahnya tak lepas sebagai objek tindak kejahatan. Belum lagi terhitung perlakuan rudapaksa terhadap sesama jenis. Dari mana semua itu berasal?

Ada yang menduga -- sebagaimana cinta -- matalah kuncinya. Dari mata turun ke hati, seseorang bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Dari segala apa yang dipandang mata, agaknya timbul ingatan yang tersalur ke memori otak lantas memicu nafsu yang sulit dikekang.

Sel-sel yang membentuk kornea, iris, pupil, lensa mata, sklera, koroid, retina, bintik kuning, saraf optik, bintik buta -- pada akhirnya dalam kesatuan bola mata -- memanglah hidup dan terbukti mampu merekam pandang serta berimbas menciptakan ingatan, entah itu baik, entah itu buruk, di mana keduanya merupakan dasar awal yang menggoda manusia untuk berbuat atau tak berbuat sesuatu.

Lantaran telah diterima bersama bahwa setiap sel yang membentuk makhluk hidup jugalah hidup dan menjadi keyakinan pada umumnya soal setiap yang hidup punya arwah, sidang para malaikat memutuskan untuk hanya mengambil arwah bola mata dari setiap jenazah manusia. Dari mata itulah dapat terlihat ingatan dan apa saja perilaku yang telah diperbuatnya. Tentu, itulah yang menjadi dasar menentukan keadilan.

Oh iya, sebelum lanjut, kedua sosok yang kulihat lebih jelas dibanding sosok-sosok lain kusebut malaikat lantaran tampaknya hampir sama bentuknya dengan cerita orang-orang: bersinar putih mengilat pun bersayap. Mereka punya dua tangan. Tangan kiri setiap malaikat memegang tombak.

Di depanku, berjejer kotak-kotak layaknya keranjang-keranjang di atas meja panjang berisi tumpukan arwah mata-mata yang bergerak-gerak, entah dari mana dipungut. Kupastikan itu tak hanya berasal dari jasad penduduk satu benua, lantaran banyak mata dengan iris yang berlainan warna. Ada yang biru, hijau, merah, hazel, amber, pun abu-abu. Tak terkecuali cokelat. Itu mataku.

Arwah mata yang satu tidak tertukar pasang dengan mata yang lain. Mereka yang sudah ditentukan hadir sepasang sejak lahir akan tetap sepasang hingga pada akhir. Bola mata kiri dan bola mata kanan saling berdekatan.

"Kita mulai dari mana?" tanya sesosok malaikat tepat di depan sebuah keranjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone