Mohon tunggu...
Irwan E. Siregar
Irwan E. Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Bebas Berkreasi

Pensiunan wartawan, pemerhati sosial dan kemasyarakatan.

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Pilihan

Bagaimana agar Siantar Bisa Menyedot Wisatawan Danau Toba

22 Januari 2023   15:15 Diperbarui: 22 Januari 2023   22:03 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Beca Bermotor, salah satu ikon Kota Siantar. (Foto: beritapekerja.com)

(Bagian pertama dari dua tulisan)

KEMARIN di kota Pematangsiantar dilaksanakan diskusi bertema: "Kota Pematang Siantar Destinasi Yes, Transit No."

Diskusi yang diikuti Ketua Dekranasda setempat, Erizal Ginting, bersama tokoh masyarakat nampaknya menarik untuk dibahas. Betapa tidak, di tengah lesunya perekonomian saat ini, kota yang melahirkan tokoh nasional Adam Malik, TB Simatupang, Ashadi Siregar, mantan Menteri Kehutanan Hasjrul Harahap dan bos Wilmar Grup Martua Sitorus, ingin berbenah diri ke arah yang lebih baik.

Sebagai kota terbesar kedua di Sumatera Utara, menurut Erizal, Siantar memang memiliki berbagai potensi. Baik dari sejarah, budaya yang beragam, ikon-ikon yang telah mendunia, serta para tokoh yang berperan untuk kemerdekaan bangsa. Topologi geografisnya juga membuat kota ini menjadi tempat pertemuan dari segala penjuru di Sumatera Utara bahkan di Sumatera.

Karena kespesifikannya, pada masa lalu pemerintah mendirikan pabrik kertas di sini. Diikuti pabrik pemintalan tali rami. Pihak swasta pun tak mau ketinggalan dengan mendirikan pabrik pengalengan nenas, pabrik korek api, dan pabrik rokok. Saat ini yang masih tetap berjalan adalah pabrik rokok merek Union dan pabrik korek api, serta industri minuman segar cap Badak.

Siantar semakin  diuntungkan karena berdekatan dengan Danau Toba yang menjadi obyek wisata internasional. Wisatawan dari arah Medan biasanya singgah istirahat di Siantar, karena sudah lelah berkendaraan selama dua jam lebih. Peluang inilah yang dimanfaatkan warga Siantar dengan menyediakan beragam masakan, jajanan, dan juga ole-ole. Seperti roti dan srikaya dari tokoh Ganda, tenteng, bahkan kini muncul ole-ole baru: roti ketawa.

Namun, boleh jadi 'anugerah' ini sebentar lagi akan pudar. Jika jalan tol Medan-Parapat (Danau Toba) telah berfungsi seluruhnya, diperkirakan akan banyak pengaruhnya. Betapa tidak, selama ini dari Medan ke Parapat ditempuh sampai empat jam lebih. Lewat jalan tol diperkirakan waktu tempuh tak sampai dua jam. Dengan begitu wisatawan tak merasa perlu lagi untuk mengasoh di Siantar. Selain itu, warga dari Tapanuli yang akan berbelanja di Medan juga tidak akan mampir lagi di Siantar.

Belum jelas apakah kekhawatiran dengan jalan tol ini yang menyebabkan kota Siantar mulai berkemas memperbaiki diri. Tapi, seharusnya Siantar justru memanfaatkan kehadiran jalan tol ini sebagai peluang.

Tekad "Kota Pematang Siantar Destinasi Yes, Transit No", bisa terus dipertahankan. Namun, harus menjadi pertimbangan juga bahwa para wisatawan datang untuk menghibur diri. Karena itu Siantar harus menata dengan semua obyek yang akan ditawarkan. Beruntunglah karena kota ini telah memiliki kebun binatang, museum, dan sebagainya.

Namun, harus diingat, Danau Toba tetaplah jadi saingan bagi Siantar. Jika tidak ada obyek wisata yang menarik, wisatawan akhirnya akan tetap numpang lewat saja, sehingga julukan sebagai kota transit akan bertahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone