Mohon tunggu...
Irwan E. Siregar
Irwan E. Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Bebas Berkreasi

Wartawan freelance, pemerhati sosial dan kemasyarakatan.

Selanjutnya

Tutup

Money

Siantar Sempat Diplot Jadi Kota Industri

23 Januari 2023   21:49 Diperbarui: 24 Januari 2023   00:30 105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pabrik rokok Union di Siantar. (Foto: koranpagionline)

SIAPA nyana kalau Pematangsiantar dulu sempat diplot menjadi kota industri. Pada 1957, pemerintah telah mendirikan pabrik pemintalan benang rami di sini.

Pabrik yang dibangun cukup besar. Disebut jumlah mata pintalnya sebanyak 6.000, yang akan menghasilkan 18 ton pintalan benang rami dalam setahun. Angka tersebut agaknya sudah cukup besar pada masa itu. Sayang, di Orde Baru pabrik ini ditutup karena keberadaannya sudah semakin redup. Kawasan itu hingga sekarang tetap bernama Rami, meskipun sudah menjadi mal dan hotel.

Pada saat hampir bersamaan pemerintah mendirikan pula pabrik kertas. Kalau pabrik rami terletak di jalan menuju ke Medan, pabrik kertas dibangun di jalan Asahan menuju kota Perdagangan. Pabrik ini mengandalkan bahan baku kayu pinus dari hutan Aek Nauli di tepi Danau Toba.

Tidak diketahui berapa kapasitas produksinya.  Namun kehadiran PN (Perusahaan Negara) Kertas Siantar, setidaknya ikut menjadi cikal bakal industri kertas di tanahair. Bagi warga Siantar, pabrik ini juga cukup terkenal karena terletak di tengah kota. Namun tak seperti industri kertas sekarang, pabrik lama ini tak menimbulkan bau kimia yang menyengat. Juga tidak mendapat protes dari warga sekitar karena tidak ada pencemaran lingkungan.

Waktu itu pabrik ini dipimpin seorang bermarga Tobing yang ditugaskan dari Jakarta. Anak-anaknya disekolahkan di SD dekat pajak (pasar) Pantoan di tengah kota. Aku sekelas dengan seorang anaknya bernama Lena. Kalau sekolah mereka diantar naik mobil dinas impala pelat merah. Karena kurang perawatan, terkadang mobil tersebut mogok sehingga murid-murid ikut mendorong.

Tak hanya pemerintah pusat yang mendirikan industri skala besar di Siantar. Seorang pengusaha Jakarta asal Minang bernama Baharuddin Datuk Bagindo (BDB) mendirikan pabrik korek api yang besar. Luas lokasi pabriknya sekitar 20 hektare di tengah kota. Kawasan ini kemudian dinamai BDB. Jumlah pekerjanya mencapai ratusan orang. Bahan bakunya juga kayu pinus dari hutan di Aek Nauli. Sekarang hutan pinus tersebut sudah dikelola pabrik kertas Toba Pulp di Porsea.

Mengimbangi ketenaran BDB, saat Orde Baru ada pula pengusaha pribumi mendirikan pabrik pengalengan nenas. Letaknya berdekatan dengan PN Kertas. Sayang, keberadaan pabrik ini tak berlangsung lama. Padahal bahan baku nenas berlimpah dari Sidamanik.

Warga pribumi lainnya yang turut meramaikan industri di Siantar, adalah pemilik PT Pabrik Es Siantar. Meskipun meneruskan usaha yang ditinggalkan pengusaha asal Swiss, tapi pengusaha bermarga Hutabarat ini mampu mengembangkan usaha sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Selain memasok es balok untuk kebutuhan kawasan Sumatera Timur, juga diproduksi limun dan minuman lainnya yang dikenal dengan Cap Badak. Bersama PT Rami, pabrik ini juga memasok listrik ke PLN.

Siantar kian berkembang dengan berdirinya pabrik rokok putih lalu disusul kretek. Sempat ada beberapa pabrik yang besar. Sekarang yang bertahan hanya pabrik rokok merek Union dan sebuah pabrik kretek.

Industri menengah dan kecil juga sempat berkembang dengan subur di sini. Seperti pembuatan kereta dorong dan timbangan beras. Sayang, kini hanya beberapa yang bertahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone