Mohon tunggu...
Leonardo Tolstoy Simanjuntak
Leonardo Tolstoy Simanjuntak Mohon Tunggu... Wiraswasta - freelancer

Membaca,menyimak,menulis: pewarna hidup.

Selanjutnya

Tutup

Medan Pilihan

Sungai Sigeaon di Kampung Kami, Riwayatmu Kini

10 Desember 2022   09:06 Diperbarui: 10 Desember 2022   09:15 260
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kondisi Aek Sigeaon Tarutung terkini pasca tanggul jebol (dok. pribadi) 

Tanggul Jebol, Kondisi Aek Sigeaon Tarutung Kini Makin Kritis
* Catatan pinggir pemerhati sungai

TIDAK banyak kota di Indonesia yang dibelah sungai. Salah satunya adalah Aek ( sungai ) Sigeaon yang membelah kota Tarutung menjadi dua kawasan terpisah dalam satu kota. Keberadaan sungai ini memang membuat kota yangi terletak dalam lembah ( Rura Silindung ), jadi eksklusif, menambah panorama bernilai plus.Sejarah Aek Sigeaon sudah cukup panjang. Tak begitu jelas kapan sungai ini melintasi Kota Tarutung. Yang pasti, sebelum kota ini berdiri, sungai ini sudah ada. Musibah banjir akibat runtuhnya tanggul

 sungai sebelah timur juga beberapa kali terjadi saat musim hujan. Hal itu ketika tanggul sungai belum dikuatkan tembok seperti sekarang. Peran sungai tak sekadar melintas membawa air, mengairi areal pertanian di kawasan lembah. Faktanya, sungai ini kurun waktu cukup lama telah berkontribusi besar menjadi sumber kehidupan banyak warga yang memanfaatkan pasirnya   sebagai sumber penghasilan. 

Dan pastinya, pasir yang terbawa sungai sangat mendukung untuk keperluan  fisik ragam bangunan. Selama berpuluh tahun warga menambang pasir secara manual, sebelum kemudian munculnya pengusaha yang menggunakan mesin penyedot dua dekade terakhir ini. Penggunaan mesin penyedot pasir memang jauh lebih praktis, dibanding menambang pasir hanya bermodalkan tangan. Tetapi belakangan, mesin penyedot menimbulkan problem serius.  

Penggunaan mesin dianggap terlalu " serakah", menguras pasir besar-besaran hanya menguntungkan pengusaha tertentu. Hal itu ditengarai menyebabkan terjadinya pendangkalan dasar sungai. Deposit pasir di sungai bersejarah ini makin menipis. Lapisan burta ( lumpur) pun mulai menebal berbaur pasir yang ketebalannya jauh berkurang. Sejumlah saluran irigasi kini tak lagi  berfungsi mengalirkan air dari sungai ke persawahan sekitar. Masyarakat petani pun uring-uringan, sawahnya terancam kekeringan kecuali dibantu air hujan. Banyak petambak ikan mas di desa Hutabarat terpaksa menutup usaha kolamnya setelah tali air terbengkalai.

Namun petani mulai paham, kenapa tali air tak lagi berfungsi.Tak terlalu ngotot lagi menyalahkan pemerintah. Karena, dasar sungai sudah jauh lebih rendah dari pintu irigasi. Logikanya, air sungai tak mungkin lagi menjangkau pintu

Bantaran sungai yang melebar (dok. pribadi)
Bantaran sungai yang melebar (dok. pribadi)
air.Ikhwal penggunaan mesin penyedot beberapa tahun terakhir sudah kerap disoroti media. Kadang, kritik soal mesin serakah itu direspon pemerintah setempat. Beberapa kali aparat Satpol menyita mesin penyedot yang ketahuan beroperasi di sungai. Tetapi masih juga berlanjut, tak jelas kenapa.TERANCAM AMBRUK
Masih berkisar soal menipisnya pasir dan pendangkalan dasar sungai, kekhawatiran juga merembes ke arah dua jembatan penghubung ke pusat kota. Jembatan ini bisa saja makin rapuh dan ambruk akibat makin dangkalnya dasar sungai. 

Kondisi jembatan Naheong misalnya, kasat mata kelihatan fondasinya sudah menganga, pengaruh erosi yang berkelanjutan terutama saat musim hujan. Hal itu sudah pernah dikritisi Marudut Nainggolan seorang wartawan senior di Taput melalui tulisannya di media. Bahkan liputan terakhir Marudut dan Martua Situmorang penasehat SMSI Taput  menggambarkan kondisi sungai dalam posisi SOS.

Tetapi, apapun masalah seputar kondisi Aek Sigeaon, pihak Pemkab Tapanuli Utara tak bisa berbuat banyak. Kenapa. Karena sungai adalah urusan atau gawenya Provinsi. Ada Balai yang diserahi tugas menyangkut sungai-sungai yang ada di daerah kabupaten/ kota. Nah, kalau begitu balai yang mengurusi sungai itu seharusnya tanggap dan peduli. Tidak hanya sekadar berpangku tangan, atau hanya manggut-manggut setiap mendengar problem menyangkut sungai yang menjadi wewenangnya.

Bupati Taput Drs Nikson Nababan MSi, sudah kerap juga menghimbau perhatian Pemprov dan pusat, untuk lebih memperhatikan kondisi Aek Sigeaon.
Terjadinya pendangkalan dasar sungai bukan satu-satunya masalah serius Aek Sigeaon saat ini. Di sisi lain, badan sungai juga terlihat makin menyempit di bagian hulu arah Sipoholon. Seiring penyempitan bantaran sungai di sisi kiri dan kanan makin melebar. Bantaran sungai kini dimanfaatkan beberapa warga jadi lahan kebun pribadi, daripada ditumbuhi belukar.

Terkini, tembok penahan yang menggunakan sheetfill ambruk. Berita lewat medsos dan media siber, menggambarkan kondisi kritis di sebelah barat sungai. Diduga, terjadi erosi kronis di saat air sungai menanjak di musim hujan. Atau mungkin konstruksi tembok penahan yang rapuh, tidak presisius.
Dugaan- dugaan secara teknis terbantahkan, ketika Kepala UPT SDA provinsi Sumatera Utara AMIR,ST menjelaskan bahwa penyebab utama ambruknya tembok tanggul Aek Sigeaon merupakan dampak dari gempa bumi yang terjadi pada tanggal 1 oktober lalu, dimana efek gempa bumi cukup kuat  mengakibatkan adanya penurunan pondasi  tanggul sungai.

Bupati Tapanuli utara Nikson Nababan disebut telah melaporkan kejadian itu kepada Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan rakyat untuk dapat membangun kembali tembok tanggul Aek Sigeaon yang ambruk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Medan Selengkapnya
Lihat Medan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone