Mohon tunggu...
Marcella Zahra
Marcella Zahra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Bernyanyi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Sosialisasi Pengaruh Stunting terhadap Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia Dini

26 Januari 2023   09:40 Diperbarui: 26 Januari 2023   09:50 37
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

SOSIALISASI PENGARUH STUNTING TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK USIA DINI

Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya kesehatan dan gizi. Kesehatan ini dimulai sejak dalam kandungan termasuk asupan makan bergizi yang dikonsumsi oleh ibu selama mengandung. 

Apabila gizi yang diasup oleh tubuh tidak mencukupi maka hal tersebut menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin menjadi terhambat. Jika kondisi ini terus berlangsung hingga 2 tahun maka pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami hambatan. 

Hambatan pada pertumbuhan anak terlihat apabila berat badan dan tinggi badan tidak sesuai dengan standar WHO. Picauly dan Toy menjelaskan bahwa indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi balita stunting adalah berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menurut standar WHO child growth standart dengan kriteria stunting jika nilai z score TB/U < -2 Standard Deviasi (SD)[1].

Kemenkes menegaskan bahwa salah satu permasalahan gizi yang menjadi perhatian utama adalah tingginya kejadian anak balita yang mengalami pendek (stunting). Balita pendek atau stunting adalah suatu kondisi pada anak yang gagal tumbuh karena kekurangan zat gizi kronis sehingga menimbulkan anak menjadi lebih pendek untuk usianya. 

Kondisi ketidaksesuaian ini disebut dengan pengerdilan atau stunting[2]. Akram mengemukakan kekurangan gizi adalah tantangan kesehatan yang dihadapi oleh seluruh masyarakat. Kekurangan gizi pada anak dapat berakibat pengerdilan. Pengerdilan merupakan kegagalan pertumbuhan searah, baik secara fisik maupun kognitif, karena gizi buruk dan infeksi sebelum dan sesudah kelahiran[3].

Menurut Almatsier pola makan adalah suatu usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan gambaran https://www.kompasiana.com//marcellazahra2330/63d1e72ea65da823d47f46f2/sosialisasi-pengaruh-stunting-terhadap-perkembangan-dan-pertumbuhan-anak-usia-dini meliputi mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit serta Konsumsi zat gizi merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap status gizi[4]. Menurut beberapa ahli keperawatan diantaranya Paplau H mengatakan bahwa kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepda kretifitas, konstruktif, dan produktif. 

Dengan demikian bahwa kesehatan adalah suatu hal yang tidak dapat dianggap sepele keberadaannya dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Bidang kesehatan perlu mendapatkan perlakuan dan perhatian khusus guna menunjang kepentingan pembangunan karakter bangsa[5]. 

Sementara Kismul mengemukakan bahwa dalam rahim, dan tingkat keparahannya secara bertahap meningkat hingga mencapai puncaknya pada sekitar 2 tahun, periode waktu yang disebut 1000 Hari Pertama Kelahiran[6]. Kirk menjelaskan bahwa stunting masa kanak-kanak berhubungan dengan keterlambatan perkembangan motoric dan tingkat kecerdasan yang lebih rendah. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi fungsi imun, perubahan metabolik, penurunan perkembangan motorik, rendahnya nilai kognitif dan rendahnya nilai akademik. 

Anak yang terhambat umumnya lebih rentan terhadap infeksi, terutama diare dan penyakit pernapasan serta malaria. Infeksi juga bisa meningkatkan malnutrisi, menciptakan lingkaran setan yang mengarah pada kekurangan pertumbuhan[7].

Konsekuensi fungsional dari pengerdilan berlanjut di masa dewasa, termasuk penurunan kapasitas kerja pada wanita, peningkatan risiko kematian selama persalinan dan hasil kelahiran yang buruk. Kesehatan anak yang bertempat tinggal di perkotaan dan di pedesaan juga menjadi salah satu faktor penentu gizi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone