Mohon tunggu...
Musiroh Talib
Musiroh Talib Mohon Tunggu... Guru - Guru

Guru di kota Surabaya. Aktivis organisai keagamaan, penulis lepas. alumni PPWS Jombang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Hanafi Si Tukang Ojol (Bagian 1)

26 Januari 2023   02:57 Diperbarui: 26 Januari 2023   03:04 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Keputusan yang sudah dia ambil, adalah sebuah keputusan besar yang melibatkan banyak orang yang menjadi tanggung jawabnya. Sekilas memang benar, keputusan itu adalah sebuah keputusan yang tepat untuk tetap dipertahankan dan diperjuangkan."

Hanafi adalah sosok seorang ayah yang selalu bercita -cita agar istri dan kedua anaknya selalu mendapat asupan makanan halal, baik dan bergizi, ketika sebuah persoalan muncul pada komunitas dimana dia bekerja, dia mulai merasa gerah dan tidak nyaman. Dia berusaha tetap bertahan semampunya sambil mencari solusi terbaik dari sebuah keputusan yang akan dia ambil. Satu demi satu tiap kejadian yang terjadi selalu dia pikirkan dan pertimbangkan. Ada irama naik turun, timbul dan tenggelam dalam benak Hanafi. Sampai disuatu titik akhir, dia harus ambil keputusan. Keputusan bodoh, begitu kata banyak orang. Dia keluar dari komunitas pekerjaan yang mapan, berpenghasilan tetap, dan sesuai aturan undang- undang buruh daerah setempat. UMR ya... gaji UMR. Gaji UMR menjadi impian banyak orang, baik yang sudah bekerja dengan gaji rendah, terlebih mereka yang masih menganggur. Hanafi tinggalkan semua ini. Dia lebih memilih pekerjaan yang selalu mengundang cibiran orang "TUKANG OJOL". Hanafi memilih menjadi tukang Ojol, dengan persepsi bahwa dalam pekerjaan ini insaallah minim riba, minim haram. Pekerjaan yang menguras banyak tenaga, banyak pulsa, banyak bensin sebagai sarana untuk mengais rejeki halal dan barokah. Dia mencoba menikmati pekerjaan barunya. Dia berusaha merasa sangat enjoy dan berusaha tidak mengeluh meski kadang yang didapat tidak sesuai dengan angan-angannya. Terkadang dalam satu hari dia bisa melampaui target pencapaian, tetapi seringkali target yang diharapkan sirna dari kenyataan. Allah mungkin turun tangan, untuk melihat seberapa besar kecintaannya terhadap keyakinan yang dimilikinya. Allah tidak mau, Hanafi sekedar beralibi atas nama aturan agama, yang dia telah lari dari kenyataan yang telah dia genggam. Kadang mulai pagi sampai sore, tak ada satupun yang memesan jasanya. Bahkan sampai larut malam, hanya mendapat satu sampai dua pesanan jasa, itupun tak sebanding antara keringatdan ongkosnya. Hanafi sering menangis dalam hati dan tafakur atas apa yang terjadi. Dia mencoba evaluasi diri, dan bertanya pada hatinya, adakah yang salah dengan keputusannya ?. Hingga di satu jum'at, Hanafi singgah disebuah masjid untuk bersiap-siap melaksanakan sholat Jum'at. Lepas wudu, dia sholat tahiyyatal masjid dan duduk membaca qur'an digital nya sambil menunggu adzan sholat Jumat. Tiba-tiba ada suara lembut dari samping kanannya berbisik. "anak muda, kamu tukang ojek?" tanyanya lembut. Hanafi menoleh, "iya pak". Dia menjawab sambil tersenyum. Sang bapak membalas tersenyum. Hanafi kembali membaca qur'an digitalnya. Keduanya tenggelam dalam hati dan pikiran masing-masing.

Usai shalat Jumat, kembali sang bapak berbisik. "Bisa antar saya pulang ? Tapi saya tidak punya uang."Bapak tua itu berkata sambil berkaca-kaca. Hanafi tanpa ragu mengangguk, tanda dia sanggup mengantar sang bapak pulang, meski tanpa membayar jasanya. "Bapak mau diantar kemana ?" tanya Hanafi. "Taman, Sidoarjo" begitu jawabnya singkat. "baik, mari ikuti saya pak, kita menuju tempat parkir dimana saya menitipkan sepeda." Keduanya berjalan beriringan menuju tempat sepeda Hanafi diparkirkan. Dengan senang hati sang bapak mengikutinya. "ini sepeda saya pak, maaf sepeda butut warisan bapak. Silahkan bapak naik, tolong nanti saya ditunjukkan alamat bapak ya ?" begitu pinta Hanafi. Sang bapak naik dan sepeda mulai melaju. Perjalanan sudah hampir setengah jam, tapi tujuan bapak belum juga sampai. "mohon maaf bapak, alamat jelasnya dimana, ya ?" tanya Hanafi tiba-tiba. "lurus saja, nanti ada perempatan belok" jawab orang tua itu datar. Kembali sepeda melaju lagi, hampir satu jam dari awal perjalanan, tapi alamat yang dimaksud tidak kunjung ditemukan. Hanafi hampir putus asa, keringat mulai mengucur dan panas matahari sudah menembus kulitnya."Allah...beri aku kekuatan untuk tetap bersabar melayani hambamu" . Tiba-tiba sang bapak menepuk pundak Hanafi. Meminta berhenti di sudut gang sempit. Hanafi pun berhenti sambil bertanya, "kenapa berhenti disini pak ? Rumah bapak masih jauh ? Mari saya antar sampai didepan rumah bapak." Sang bapak tetap diam, dan melihat sudut gang seperti kebingungan. Hanafi berpikir kenapa dia, mengapa seperti orang yang sedang bingung?. Sang bapak tiba-tiba tersenyum seperti teringat sesuatu. "nak... ayo masuk ke gang ini, tapi sepedanya dituntun ya ?" kata sang bapak. Hanafi mengangguk. Sambil berjalan beriringan, Hanafi menuntun sepeda bututnya. Belum seratus meter, orang-orang kampung keluar berlari menuju sang bapak sambil mencium tangan keriputnya. "Yai...yai... Alhamdulillah yai pulang," begitu teriak hampir seratus orang yang gembira atas kepulangan sang kyai. Mereka berebut mencium tangannya yang sudah keribut. Sementara si tukang Ojol Hanafi, bingung campur bahagia melihat kejadian dihadapannya. "kyai... yang aku bonceng seorang kyai terhormat" Alhamdulillah....begitu desah nafas Hanafi. "ini rumahku nak, ayo masuk, aku ingin kamu menjadi tamu terhormat ku" suara lembut sang kyai membuyarkan lamunan Hanafi. "tidak usah yai... Saya bersyukur telah dipertemukan dengan yai dan bisa mengantar yai pulang" saya mohon pamit. Sang kyai menggelengkan kepalanya, dan memaksa Hanafi masuk kerumahnya. Tanpa bisa menolak, Hanafi mengikuti perintahnya dan duduk di ruang tamu beserta beberapa orang yang menemuinya. Selang beberapa menit, seorang anak muda perkasa keluar dari ruang dalam "Assalamualaikum"begitu sapanya. Keduanya bersalaman, berkenalan dan mengobrol bersama. Pemuda itu ternyata anak pertama sang kyai. Beberapa kali menghaturkan banyak terimakasih pada Hanafi yang telah mengantar bapaknya pulang dan sampai ke rumah dengan selamat. Dia menceritakan kondisi bapak nya yang seringkali menghilang. Hanafi tak mengira bahwa sang bapak yang ditemukan di masjid adalah kyai terhormat yang amat sangat disegani, dengan tertunduk dan merasa sangat bersyukur, Hanafi meneteskan air mata dalam senyum tipis bibirnya. "alhamdulillah" begitu kata hatinya. Sampai diakhir pembicaraan, Hanafi mohon pamit kepada sang bapak dan putranya. Saat bersalaman dengan sang kyai, beliau memberi bingkisan kecil "ini untuk istri dan anak-anakmu. Semoga menjadi makanan halal dan barokah". Terimalah, jangan ditolak ! Hanafi tertunduk dan terpaksa menerima bingkisan kecil yang dianggapnya hanyalah jajan untuk kedua anaknya. Sekali lagi Hanafi berterimakasih dan mencium tangan sang bapak sambil pamit pulang. Sang kyai memandang penuh haru dan berpesan "pulang saja ke rumah, istirahat sebentar, nanti malam, keluar lagi" . Begitu kata sang kyai. Ini no hp anakku, kalau kebetulan lewat disini, mampirlah, jangan sungkan-sungkan. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Hanafi Cuma tersenyum dan mengangguk dan berjalan mundur menuju arah pintu. Assalamualaikum....

Dalam perjalanan menuju pulang, Hanafi galau dan penasaran, tapi dia tetap patuh pada pesan sang kyai. Dia harus pulang segera dan sampai kerumahnya. "assalamualaikum" ... begitu sapa Hanafi kepada istri dan kedua anaknya. "wa alaikumus salam" jawab sang istri. Kok tumben pulang siang bang ? Tanya istrinya. "alhamdulillah" jawab Hanafi ... Aku harus istirahat dulu. Nanti malam aku balik. Bersandar pada tembok rumahnya, Hanafi duduk dan membuka isi kotak kecil pemberian sang kyai. "astaghfirullah" jerit Hanafi. Tak percaya atas apa yang dilihatnya. "apakah kyai tidak salah memberi bingkisan kecil berisi uang sebanyak ini, atau uang ini memang untukku?" ya... Allah....aku harus konfirmasi. Dicarinya kertas kecil pemberian sang kyai, dan... Alhamdulillah... ketemu...begitu pikirnya. Dengan gemetar Hanafi menombol no hp itu...dan..."assalamu Alaikum" ... "wa alaikum salam" jawab suara diseberang. "kenapa telpon mas ? Bingkisan itu untuk mu, aku memberimu karena ketulusan mu, aku tidak salah orang. Itu hadiah dariku atas ketulusan mu" suara parau itu menjelaskan, seperti sudah sangat tahu atas pertanyaan hatinya. Hanafi tak bisa berkata, jantungnya berdegup kencang, dan besukur atas karunia sang maha. Belum sempat berterimakasih, "suara diseberang berkata lagi, "ambil air wudu dan sujud syukur lah. Apa yang hari ini terjadi, adalah jawaban Allah atas keputusanmu" klik... tiba-tiba telpon tertutup. Hanafi terdiam seperti tidak percaya. Allah... terimakasih atas karuniamu....

.

Sambi Bulu, 29 Agustus 2022.


Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone