Mohon tunggu...
Niko Simamora
Niko Simamora Mohon Tunggu... Pengajar - Menulis

@nikomamora~\r\nnikosimamora.wordpress.com~\r\[email protected]\r\n

Selanjutnya

Tutup

Sosok

Prabowo-Puan, Pasangan Paling Pas?

1 Maret 2022   22:42 Diperbarui: 1 Maret 2022   22:46 571
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Prabowo-Puan, Pasangan Paling Pas? (sumber: KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO-RODERICK ADRIAN MOZES)

Prabowo Subianto dengan elektabilitas yang masih tinggi menurut berbagai survei, besar kemungkinan akan memanfaatkan momentum pemilihan presiden (pilpres) 2024 mendatang. Mengapa tidak? Dengan battlefield yang terbuka, ibarat pasar persaingan sempurna, tidak ada yang dominan dan no barrier to entry. Para bakal calon presiden (capres) yang merasa berpeluang besar, dipersilakan untuk berkompetisi. Dan, Prabowo Subianto menjadi kandidat yang paling berpeluang.

Lalu, bagaimana peta kandidat yang berpeluang muncul? Menurut saya, pilpres 2024 akan berpeluang untuk memuluskan kembali kandidat yang didukung para elit. Momentum ini sangat berbeda dengan kemunculan Jokowi yang memiliki rekam jejak yang membekas di hati rakyat. Saat itu, Jokowi membuat teori elit (elite theory) menjadi tidak relevan karena hanya merupakan kader partai, bukan ketua umum partai.

Dengan kondisi tersebut, peta kandidat akan memunculkan kandidat-kandidat hasil  kompromi para elit, terutama oleh partai politik (parpol). Dari hasil survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia yang dirilis 9 Januari 2022 menunjukkan bahwa Prabowo Subianto menduduki posisi teratas dengan 54.4 persen. Hasil itu jauh mengungguli ketua umum parpol lainnya, Agus Harimurti Yudhoyono (11.8 persen), Airlangga Hartarto (6.8 persen), Megawati (4.6 persen), Surya Paloh (1.6 persen), Muhaimin Iskandar (1.5 persen), Ahmad Syaikhu (1.3 persen), Zulkifli Hasan (0.2 persen) dan Suharso Monoarfa (0.1 persen).

Hal di atas membuat peluang Prabowo Subianto paling besar menjadi calon presiden. Lalu, bagaimana dengan pasangannya? Menurut saya, Puan Maharani menjadi calon yang paling cocok untuk diusung bersama Prabowo. Pasangan Prabowo-Puan menjadi pasangan paling pas yang diusung oleh para elit. Pasangan tersebut sudah memenuhi syarat Undang-Undang Nomor 7  tahun 2017 tentang Pemilihan Umum: calon presiden dan wakil presiden diusung partai atau koalisi partai yang berhasil memperoleh minimal 25 persen suara atau 20 persen kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Megawati sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tentu merasa sudah bukan waktunya lagi untuk ikut kontestasi pilpres. Sama halnya ketika mengusung Jokowi, Megawati sudah merasa cukup menjadi sutradara yang berperan di belakang layar.

Mengusung Puan menjadi calon wakil presiden hal yang paling memungkinkan bagi Megawati. Selain karena ingin meneruskan trah Soekarno di kancah kepemimpinan nasional, kompromi dengan Prabowo akan lebih cepat diputuskan  karena relasi historis yang panjang antara Megawati dan Prabowo.

Lalu apakah Puan bisa mendongkrak elektabilitas pasangan Prabowo-Puan? Selain faktor perolehan suara partai, Puan juga memiliki pengalaman yang panjang sebagai tokoh nasional. Jabatan sebagai Ketua DPR saat ini tentu menjadi prestasi tersendiri, karena merupakan perempuan pertama yang menjabat posisi tersebut.

Sebelumnya, Puan juga sudah berpengalaman di eksekutif sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (MenkoPMK) selama lima tahun dan merupakan menteri termuda dengan segudang prestasi yang ditorehkan.

Pengalaman dan prestasi tersebut diperkuat dengan jabatannya sebagai ketua dewan pimpinan pusat (DPP) PDIP bidang politik dan keamanan. Dukungan kader partai akan dengan mudah dimobilisasi untuk mendukung Puan Maharani sebagai pasangan dari Prabowo untuk pilpres 2024 nanti.

Boleh kita bayangkan, pasangan Prabowo-Puan dari koalisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan PDIP di atas kertas sudah meraup sekitar 31 persen suara nasional. Akumulasi suara tersebut bisa ditambah bila elit partai yang lain juga turut berkompromi untuk mengusung Prabowo-Puan. Kita asumsikan saja di luar parpol yang sudah menggulirkan wacana pemilu ditunda (Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Golongan Karya), ada sekitar 30 persen suara yang masih berpeluang untuk diajak koalisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone