Mohon tunggu...
Rara
Rara Mohon Tunggu... Freelancer - Simple Present

Film adalah Seni Menikmati Tragedi

Selanjutnya

Tutup

Film

Authobiography: Keturunan Pembantu yang Ngidam Digugu

22 Januari 2023   13:49 Diperbarui: 22 Januari 2023   13:52 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

"Saya ingin memotret satu hubungan sederhana antara majikan dan pembantu. Bisa bicara soal lapisan generasi dulu dan sekarang juga. Mencoba memotret banyak hal lewat dua orang sederhana. 

Film ini mengajak untuk melihat hal kecil seperti kopi, teh, dan catur. Dan apa yang dilewatkan dari momen kecil ini?" Mengutip dari pernyataan Makbul Mubarak pada Gala Premier debut film panjang pertamanya pada 17 Januari 2023 lalu. Saya mengafirmasi seluruh pernyataannya. Pengalaman menonton film ini adalah pengalaman yang eksperimental bagi saya.

Bercerita tentang Rakib (Kevin Ardilova) yang diamanahi bapak nya (Rukman Rosadi) menjaga rumah seorang Purnawiran militer bernama Purnawinata (Arswendy Bening Swara). 

Suatu hari Jenderal, begitu julukan Pak Purnawinata beritikad untuk mencalonkan diri menjadi Bupati di daerah asalnya. Setelah lama menjaga rumah kosong itu, akhirnya Rakib bertemu dengan empu rumah nya. Rakib juga bertemu dengan takdir yang membawa nya pada kematian yang tak terelakkan. 

Secara penuturan, film ini memiliki naskah yang sangat rapih dalam penulisannya. Saya mengagumi bagaimana penulis mampu mengeksplorasi perasaan Rakib mulai dari kekaguman, ketamakan hingga ketakutan bereskalasi di level yang berbeda. 

Di paruh awal, penonton ditunjukkan hubungan antara Rakib dan Jenderal yang terpaut strata sosial. Pandangan Rakib terhadap tuan rumah nya masih sama dengan warga setempat atau mungkin warga Indonesia pada umum nya yang hidup dengan trauma kepemimpinan rezim tangan besi selama 31 tahun itu. 

Kemudian berjalannya waktu, Rakib diizinkan mencicipi kekuasaan, sedikit demi sedikit. Kecil namun berdampak signifikan bagi kehidupan Rakib. Kini Rakib melihat kata 'maaf' dapat mengubah marah menjadi hadiah seperti kata Jenderal. Namun Rakib terperdaya hingga hilang arah dan membawa klimaks film ini pada akhir yang membuat penonton bergidik ngeri melihat kekuasaan yang mampu mengubah sang pemegang kuasa. 

Bicara tentang kekuasaan, bagi Pak Purnawinata kekuasaan yang dimiliki nya adalah sesuatu yang layak ia miliki karena bapak dan kakek nya pun mewarisi hal yang sama. Tak perlu usaha, semua orang memanggilnya Jenderal walaupun bukan ajudan. Namun sosok Rakib dalam film ini muncul sebagai pembanding yang nyata. 

Alih-alih tajir turun temurun, bapak dan kakek Rakib hidup sebagai jongos di rumah keluarga Pak Purnawinata. Rakib memandang kekuasaan sebagai konsep yang sureal. Tidak pernah ada di tangan nya, namun mampu dirasakan imbasnya. Penampilan dua karakter dengan latar belakang yang bertolak belakang ini memancing diskusi penonton dengan disajikan banyak penggambaran ketimpangan kuasa sepanjang film nya. 

Sang Sutradara membuat film ini berdasarkan pengalaman pribadi nya, ketakutan masa kecil yang membekas tentang kengerian yang mungkin saat ini masih kita rasakan terbukti dengan kasus FS yang dengan kuasanya memaksa ajudannya untuk saling membunuh. 

Ketakukutan bukan karena penampakan, lebih sederhana dari itu, ketakutan yang dibangun lewat atribut seperti seragam, senapan bahkan kata 'maaf'. Rasa takut itu menyebar ke seisi bioskop, membuat penonton serempak bergidik pada satu kalimat "Siapa bilang saya minum kopi?".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone