Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

Saat tapak tilas bukan lagi sekadar jejak kaki. Kala gading gajah dan belang harimau mulai punah. Ketika ilusi dirasa nyata. Di sanalah indra menangkap informasi yang diolah bersama akalbudi, lalu dengan memaksimalkan kemampuan nalar, naluri dan nurani, bergegas bersama menciptakan argumentasi sehat, cerdas dan berdaya pikir kritis

Selanjutnya

Tutup

Diary

Imlek 2023: Rindu Kue Keranjang Goreng Racikan Ibu

24 Januari 2023   14:01 Diperbarui: 25 Januari 2023   10:15 65
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Hampir di setiap perayaan imlek, saya selalu dapat menikmati kue keranjang buatan ibu. Sebenarnya, bukan kue keranjangnya yang buatan ibu tetapi variasi  sajiannya yang buatan ibu.  Keluarga kami bukan Tionghoa, tapi entah dari mana datangnya atau siapa yang memberi, tiap perayaan Imlek, ibu selalu saja memiliki kue keranjang yang menjadi ciri khas sajian Imlek atau Tahun Baru China.

Kue keranjang yang disajikan setiap tahun oleh ibu juga tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Selalu variasi dengan sajian yang sama; kue keranjang goreng. Tetapi sepertinya, variasi sajian kue keranjang goreng malah lebih sering saya lihat dan nikmati dari beberapa keluarga lain yang juga bukan keluarga Tionghoa. Mengapa kue keranjang utuh tidak menarik untuk langsung di makan?

Ini sebatas opini berdasar pengalaman pribadi, beberapa keluarga non Tionghoa yang pernah menyajikan kue keranjang baik untuk disantap oleh keluarga maupun disajikan untuk pasangan kopi atau teh para tamu, biasanya sudah dalam bentuk kue keranjang yang digoreng.

Barangkali soal selera. Namun diduga kuat bahwa rasa manisnya yang menyengat dan teksturnya yang cenderung lengket jika langsung dimakan, menjadi alasan bagi beberapa keluarga untuk menyantap kue keranjang dengan di goreng tepung atau campuran bahan lainnya, ketimbang langsung dimakan. 

Saya menduga, ibu mendapat kue keranjang dari orangtua murid setiap tahunnya. Sebab ia pernah bercerita tentang beberapa keluarga Tionghoa yang anaknya minta diajari les privat. Saya yakin sebagian besar kue keranjang yang ibu dapat adalah hadiah atau pemberian keluarga Tionghoa yang anaknya menjadi murid atau pernah belajar les privat pada ibu. 

Makanya meskipun pada masa orde baru perayaan Imlek sempat tidak boleh dirayakan secara terbuka, ibu tetap tetap punya kue keranjang setiap tahun. Baru pada tahun 2000an di era presiden KH. Abdurrahaman Wahid atau Gus Dur, Imlek kembali dibebaskan untuk dirayakan, dan kue keranjang mudah didapatkan di mana-mana karena sudah banyak dijual.

Imlek 2023. Tanpa kue keranjang. Saya dan keluarga kecil diajak berkeliling wilayah BSD oleh keluarga kakak. Awalnya saya berminat untuk melihat pertunjukkan barongsai atau naga yang kerap diadakan di mal-mal pada perayaan Imlek. Sekadar ingin memberi hiburan pada si kecil tetapi batal lantaran jadwal pertunjukkan barongsai atau naga di beberapa tempat sekitar BSD sudah usai.

Akhirnya, kami dibawa berkeliling di kota terencana itu. Areanya begitu luas. Sekilas seperti kota impian bagi siapa pun. Jalan-jalan tampak bersih, lengang dan tertata rapi. Di kanan kiri tampak hunian besar, mewah dan bagus. Kadang bangunan-bangunan tinggi dengan desain tak biasa. Tapi kenikmatan dalam melihatnya jauh berkurang karena minimnya cahaya. Jalan-jalan tampak remang dan gelap. Terlebih sebagian area yang tertutup rimbun pepohonan.

Berkeliling menikmati kota, melintasi BSD plaza, ITC BSD, ICE, Aeon, Summarecon, Vanya Park, Foresta, Tabebuya, Heron dan lainnya. Entah mana yang lebih mula dan mana yang terakhir dilintasi tak jelas saya pahami. Hanya sekejap indah, mewah, megah dan gelap. Sampai kami berakhir di sebuah restoran yang bernama Kampung Kecil, BSD. Bersama menikmati Gurame, Cah Kangkung dan sate Cumi di malam hari perayaan Imlek 2023. Imlek yang rasanya tak memiliki arti lagi sejak 7 tahun terakhir.  

Sebab perayaan Imlek sejak 7 tahun terakhir tanpa kehadiran ibu. 7 tahun yang tak lagi menghadirkan kue keranjang goreng racikannya. Bisakah beliau engkau hadirkan walau sebentar, ya Allah? Seperti kata Andmesh Kamaleng: "...Bukannya diri ini tak terima kenyataan. Hati ini hanya rindu". Dan tahun ini rindu itu mewujud lewat kue keranjang goreng racikan ibu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone