Mohon tunggu...
Timothy Gunawan
Timothy Gunawan Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar SMA

Saya bercita-cita menjadi engineer karena senang mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari

Selanjutnya

Tutup

Otomotif

Subsidi Mobil Listrik yang Menjadi Malapetaka bagi Pemerintah Indonesia

1 Maret 2023   01:48 Diperbarui: 1 Maret 2023   02:12 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Otomotif. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Pemerintah Indonesia berencana untuk memberikan subsidi pembelian kendaraan listrik sebesar 80 juta untuk mobil listrik dan delapan juta untuk motor listrik. Tidak hanya itu, melainkan mobil hybrid juga mendapat subsidi sebesar 40 juta dan motor konversi dari mesin konvensional menjadi listrik mendapat lima juta. Langkah ini tentunya untuk mendukung visi pemerintah era sekarang, yaitu menggunakan kendaraan berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan demi mengurangi tingkat polusi di Indonesia. Namun, pada faktanya langkah pemerintah ini menuai pro dan kontra dari pengamat politik, pejabat DPR dan beberapa masyarakat.

Bapak Tauhid Ahmad selaku Direktur Eksekutif Indef tidak setuju apabila pemerintah memberikan subsidi mobil listrik sebesar 80 juta. Hal ini dikarenakan jumlah subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah sangatlah besar dan akan memberatkan APBN negara, serta visi dan misi utama pemerintah, yaitu membangun infrastruktur dari barat ke timur Indonesia menjadi terganggu. Menurut beliau, sebaiknya pemerintah hanya memberikan subsidi untuk motor listrik saja demi membantu rakyat kecil yang kurang mampu. 

Dikarenakan sebagian besar konsumen mobil listrik di Indonesia sudah memliki ekonomi yang cukup mapan. "Tentu kita mendorong subsidi ini lebih tepat sasaran untuk orang yang tidak mampu. Kalau yang diberikan ke masyrakat atas buka menengah atas, kalau menengah biasa harganya di bawah Rp 150 juta ke bawah. Ini kan rata-rata di atas Rp 300 juta mobilnya (mobil listrik). Akan lebih baik kalau ada (subsidi) ya ke roda dua (motor listrik)," kata Bapak Tauhid Ahmad.

Menurut Beliau juga, subsidi kendaraan listrik dapat menjadi malapetaka bagi pemerintah Indonesia sendiri. Dikarenakan mayoritas baterai yang digunakan oleh kendaraan listrik di Indonesia saat ini masih impor dan ujung-ujungnya keuntungan lebih banyak dirasakan oleh pihak luar negeri. Padahal, subsidi seharusnya masuk ke industri dalam negeri agar Indonesia dapat berkembang. "Misalnya begini, kalau kita memberikan subsidi Rp 80 juta itu harusnya ada industri dalam negeri yang sudah berkembang. Misalnya kita produksi nikel baterai tapi baru 2026 diproduksi. Sementara sekarang baterai masih impor," kata Bapak Tauhid Ahmad.

Selain itu, subsidi terhadap kendaraan listrik juga diprediksi dapat menyebabkan kemacetan parah di ibukota dalam beberapa tahun yang akan datang. Kasus ini kurang lebih sama seperti kasus saat pemerintah memberikan subsidi PPnBM 100% pada beberapa mobil tahun 2021 yang lalu. Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, jumlah kendaraan di Jakarta saat ini adalah 21 jutaan dengan unit per kilometer-nya adalah 2.077 kendaraan. Tentu, apabila pemerintah memberikan subsidi pada kendaraan listrik dapat menyebabkan jumlah kendaraan di ibukota meningkat drastis dan menyebabkan kemacetan yang parah. 

Solusi yang tepat bagi saya sebagai penulis adalah pemerintah harus memperbaiki dan menambah unit-unit transportasi umum-nya, seperti Transjakarta, KRL (Kereta Rel Listrik) dan Jaklingko. Selain itu, untuk transportasi umum yang masih dalam pembangunan, seperti LRT (Light Rail Transit) dan MRT (Mass Rapid Transit) fase II harus dipercepat agar masyarakat dapat segera beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. 

Pemerintah juga perlu menghubungkan satu transportasi umum dengan transportasi umum yang lainnya, misalnya KRL yang terhubung langsung dengan Transjakarta dan MRT. Apabila pemerintah mampu mewujudkan solusi ini, dapat dipastikan jumlah kendaraan pribadi di Indonesia akan berkurang dalam beberapa tahun ke depan karena masyarakat akan memilih kendaraan umum yang lebih cepat, mudah, murah, namun tetap nyaman.  

Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone