Mohon tunggu...
Tony
Tony Mohon Tunggu... Administrasi - Asal dari desa Wangon

Seneng dengerin musik seperti Slip Away dari Shakatak.

Selanjutnya

Tutup

Film

Sakra

24 Januari 2023   17:12 Diperbarui: 24 Januari 2023   17:15 482
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Lebih dari 4 dekade yang lalu bioskop di Indonesia setiap tahunnya tidak pernah absen dari hadirnya fim-film silat khas Hong Kong. Penggemar wuxia saat itu pasti tidak akan asing dengan nama-nama seperti Ti Lung, Wang Yu, Lo Lieh (kelahiran Pematangsiantar), Chen Kuan Thay, atau Chang Cheh. Penonton juga pasti akrab dengan cerita-cerita seperti "Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga", "Pendekar Hina Kelana", "Kisah si Rase Terbang" atau cerita "Pendekar Pemanah Burung Rajawali" yang mengokohkan nama Fu Shen dalam jajaran top aktor film Mandarin.

"Sakra" film wuxia terbaru produksi tahun 2022 yang premiere nya serentak dirilis di Malaysia dan Singapura 16 Januari kemaren, juga diangkat dari cerita silat "Kisah Pendekar Negeri Tayli/ Demi-Gods and Semi-Devils" karya Chin Yung pengarang novel seperti cerita-cerita yang disebutkan di atas tadi. "Demi-Gods and Semi-Devils" sudah berulang kali diproduksi baik di versi bioskop maupun versi televisi. Di tahun 80 an trend soap opera semacam ini booming di Indonesia sehingga melahirkan banyak rental film dalam format video Beta maupun VHS.

"Sakra" mengambil seting tahun 960 atau saat dinasti Song Utara berkuasa di tanah Tiongkok. Film dibuka dengan adegan seorang anak bayi laki-laki yang dibuang lalu diambil dan dirawat oleh sepasang pengemis. Seiring berjalannya waktu, si anak yang kemudian mempunyai nama Qiao Feng tumbuh semakin kuat setelah ditempa bertahun-tahun di biara Shaolin. Menjadi seorang pendekar dari klan pengemis yang tak terkalahkan, Qiao Feng menuai pujian dan juga kebencian. Klan yang merasa masa depannya bakal disaingi mencoba menghasut klan-klan yang lain guna berkolaborasi menjebak  Qiao Feng. Setelah berhasil dijebak dengan tuduhan membunuh, Qiao Feng dikucilkan, dibuang dari anggota masyarakatnya dan dicari untuk dibunuh oleh seluruh dunia persilatan. Dalam pengembaraannya ini Qiao Feng satu persatu mulai menemukan tentang asal usul jati dirinya dan sekaligus menemukan dalang dari kekacauan semua peristiwa yang menimpa dirinya.

"Sakra" dibintangi dan disutradarai oleh Donnie Yen yang populer dan identik dengan "Ip Man'. Meski plot sudah agak rapi, tapi editor film menyajikan urut-urutan gambarnya dengan berantakan. Terutama saat film hendak berakhir, scene-scene yang seharusnya bisa ditampilkan di awal atau di tengah film dicoba dipaksa masuk guna menambah informasi. Film jadi memiliki kesan terburu-buru. Penggunaan transisi fade-in fade-out (perpindahan gambar yang satu ke gambar berikutnya secara tumpang tindih) juga sangat mengganjal di mata. Alhasil ilustrasi musik yang bagus menjadi ikut berantakan, kedengarannya seperti berhenti mendadak menyesuaikan gambar. Ini bisa diibaratkan orgasme yang terputus. Salah satu karakter dalam film yang memiliki skill menipu orang dengan menggunakan topeng (layaknya Tom Cruise di Mission Impossible) diulang hingga lebih dari dua kali. Ini juga sebetulnya haram dalam dunia penulisan di Hollywood, sebab yang ketiga akan menurunkan kualitas skenario dengan menunjukan ketidakmampuannya memecahkan masalah. Banyak adegan kosong yang seharusnya bisa diisi dengan sebaris duabaris dialog dan Donnie Yen kurang memperhatikan yang satu ini.

Seandainya saja film ini disutradarai oleh Zhang Yimou, maka "Sakra" akan menjadi film laga yang dahsyat dan indah seperti karyanya "House of Flying Daggers". Tetapi jujur saja, adegan pertarungan film ini cukup menawan dan membuat jantung berdegup. Kalau urusan yang satu ini mungkin Donnie Yen paham. Penonton akan datang ke bioskop menyaksikan adegan berantem, bukan adegan romansa. Beda saat nonton film silat di bioskop jaman dulu di era Chang Cheh. Ramuannya sekarang cukup sederhana: proyektor Christie dan tata suara Dolby Digital. Semua kekurangan akan tertutup oleh dua bumbu tadi.

(***) out of (*****)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone