Mohon tunggu...
Makka Muhammad Mustova
Makka Muhammad Mustova Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pengangguran

buang buang waktu

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Meningkatkan Literasi di Era Modernisasi

26 Januari 2023   00:30 Diperbarui: 26 Januari 2023   22:24 219
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Menurut Alberta, literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Adapun UNESCO juga menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, instusi, nilai-nilai budaya serta pengalaman.

Seperti yang kita semua ketahui, bahwa kita hidup ditengah modernisasi. Modernisasi adalah suatu proses perubahan dari keadaan tradisional menuju masyartakat yang lebih maju (modern) atau masa kini. Proses tersebut merupakan pergeseran sikap dan mentalitas sebagai masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Masuknya modernisasi ke Indonesia sangat berpengaruh dalam proses belajar dan mengajar bagi siswa dan guru. Banyak siswa yang menggap cara belajar masih ketinggalan zaman dan membosankan yang membuat minat belajar rendah dan menyebabkan literasi di Indonesia sendiri mejadi rendah dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara lainnya. Dan masih ada juga tenaga pengajar yang menerapkan gaya belajar yang kurang sesuai dengan gaya belajar anak masa kini atau ketinggalan zaman.

Hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) menyebutkan, budaya literasi masyarakat indonesia pada 2021 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara tersebut. Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. PISA menyebutkan, tidak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi di tingkat lima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki tingkat literasi di tingkat empat, selebihnya berada di bawah tingkat tiga, bahkan mencapai tingkat bawah. Data statistik UNESCO 2021 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti hanya satu orang saja yang memiliki minat baca dari setiap 1.000 penduduk. Angka UNDP juga sangat mengejutkan, bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Oleh  karena itu, langkah mana  yang cukup tepat untuk meningkatkan tingkat literasi di Indonesia?

Adapun faktor yang mempengaruhi rendahnya literasi di Indonesia.

  1. Kurangnya pembiasaan membaca sejak dini.
  2. Tidak meratanya fasilitas dan minim nya pendidikan yang ada di Indonesia.
  3. Tidak ada upaya untuk menambah lebih banyak bahan bacaan yang bervariasi.
  4. Tidak ada ruang yang nyaman untuk membaca.
  5. Penggunaan model pembelajaran membaca yang kurang bervariatif.
  6. Berkembang pesatnya teknologi yang membuat siswa-siswi menjadi malas membaca.

Berikut beberapa cara yang dapat meningkatkan literasi anak di Indonesia:

1. Metode SSR (Sustained Silent Reading)

Sustained Silent Reading atau membaca Diam (dalam hati) adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkan minat baca. Sebelum proses belajar-mengajar dimulai, anak-anak diberikan waktu selama 10-20 menit untuk membaca buku cerita. Kemudian, mereka menulis laporan membaca yang berisi judul, jumlah halaman, dan ringkasan serta tokoh dari buku yang dibaca.

2. Metode Home Reading

Home Reading atau membaca di rumah adalah kegiatan membaca yang dilakukan di rumah. Caranya, anak-anak bisa ditugaskan untuk membacakan isi dari buku cerita kepada orang tua nya. Kemudian, orang tuanya juga melaporkan kepada guru apakah tugas membaca yang diberikan terlaksanakan dengan baik.

3. Metode Reading Challenge

Metode Reading Challenge atau tantangan membaca ini caranya dengan menantang siswa-siswi untuk membaca 15 buku selama satu semester (Juli-Desember). Murid yang behasil membaca 15 buku akan mendapatkan hadiah buku bacaan dari gurunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Daftar Partner Kami
Antara News
Viva
Liputan 6
Kompasiana
OkeZone